Title : Gloria (Keagungan)

Cast : DBSK Member (Especially Yunho and Jaejoong)

Setting : Tahun 1700-an.

Warning : AU, OOC, Yaoi or Shonen-ai?, etc.

Disclaimer : DBSK © SM.Entertainment.

Don’t Like Don’t Read

 

A/N: Karena di sini saya mengambil setting tempat di Perancis, maka dengan itu bahasa yang digunakan adalah Perancis. Saya tetap menggunakan nama panggilan asli dalam tokoh ini. Tapi jangan harap nama lengkap mereka menggunakan nama Korea. Tidak mungkin kan setting di Perancis tapi nama Korea? Otomatis nama lengkap mereka itu ada unsur Perancisnya. Dan juga, Jaejoong tidak sixpack loh di fic ini, hanya Yunho aja yang sixpack demi kelangsung cerita di dalamnya.

Ok, happy reading ^^

Pagi yang cerah hari ini. Sebagian orang mulai melakukan aktifitasnya masing-masing. Sebagai penjual, mereka menjajakan berbagai macam makanan bahkan rempah-rempah pun mereka menjualnya. Sedangkan para pekerja buruh mulai mengangkut berbagai barang sesuai komando. Ada juga beberapa pandai besi sedang membakar besi olahannya untuk dijadikan pedang.

Terlihat seorang pemuda berumur 23 tahun tengah memasak sesuatu di dapur rumahnya. Ia sedang memotong sayuran berwarna oranye. Sebut saja wortel dan sayur kol yang ikut  Ia potong. Setelah selesai memotong sayuran tersebut, Ia mulai memasukkannya ke dalam panci yang kini telah diberi air yang sudah mendidih. Sepanjang kegiatannya, Ia hanya bisa tersenyum sambil memasukkan beras yang sudah dicucinya ke dalam panci yang satunya lagi.

Sesudah beras yang Ia masak tadi mulai melunak yang dijadikan bubur, sayur-sayur yang sudah Ia rebus tadi dimasukkan ke dalamnya diikuti beberapa bumbu sebagai penyedap rasa. Tak lupa lauk-pauk Ia campur juga. Dia mengaduk isi dari panci itu kemudian mencicipinya sedikit.

“Lumayan enak,” gumamnya. Ia kembali melanjutkan memasaknya.

Setelah bubur yang Ia masak mengalami pematangan, Ia mengambil dua buah mangkuk yang dilapisi dua piring sebagai alasnya. Ia menuangnya dengan hati-hati agar tidak tumpah ke dalam mangkuk tersebut. Aroma harum pun mulai mengusik hidungnya.

Seorang pemuda yang kala itu sedang bangun dari tidurnya, tiba-tiba terusik oleh keharuman masakan yang tercium oleh hidungnya. Ia tau siapa yang memasak masakan seperti ini. Siapa lagi kalau bukan frère(kakak)-nya.

Pemuda ini pun segera menghampiri frère-nya. Dengan muka mengantuk, Ia menyapa frère-nya.

“Bonjour, frère (selamat pagi, kakak),” sapa pemuda ini.

“Bonjour, Junsu,” balas pemuda yang tengah memasakkan bubur ini.

Junsu, atau nama lengkapnya adalah Orane Junsu Pierre* merupakan sang adik dari Russell Jaejoong Pierre* atau lebih dikenal dengan Jaejoong. Mereka hanya tinggal berdua di sebuah rumah di kawasan France ini. Orang tua mereka meninggal sewaktu Jaejoong berumur 12 tahun dan Junsu berumur sepuluh tahun. Saat itu mereka tidak tahu kenapa orang tuanya meninggal. Yang mereka tahu saat itu, mereka disuruh lari menjauh dari rumah oleh mere (ibu) mereka ketika ada sekelompok orang berpakaian hitam mengobrak ngabrik rumah mereka yang terbilang cukup mewah. Semenjak saat itu, mereka tidak tahu kabar dari orang tua mereka. Mereka hanya bertahan hidup dengan bekerja sana-sini sebagai buruh.

Junsu menengok ke arah Jeajoong, melihat apa yang sedang dilakukan frère-nya itu. Raut muka kecewa tergambar jelas di wajahnya.

“Kenapa kita harus makan makanan ini lagi?” keluh Junsu kepada Jaejoong. Jaejoong hanya bisa tersenyum.

“Kita tak punya bahan lain untuk dimasak,” balas Jaejoong sambil menatap lembut adik satu-satunya itu, “selain itu kita juga harus menghemat. Kita bukan orang kaya yang bisa seenaknya makan ini dan itu, Junsu. Harap kamu paham dengan keadaan ekonomi kita.”

Junsu merasa tertohok. Dia lupa kalau keadaannya sekarang serba kekurangan. Butuh kerja keras untuk mendapatkan beberapa keping uang untuk makan. dia juga sadar, selama ini hanya frère-nya itu yang bekerja sebagai buruh untuk menghidupi kebutuhan mereka. Junsu merasa menyesal telah berkata seperti itu.

“Pardon moi (Maafkan aku),” ujar Junsu dengan muka tertunduk. Dia tidak berani memandang muka cantik milik kakaknya itu.

Jaejoong melangkah mendekati adiknya itu. Dengan senyum terkembang di bibirnya, Ia memeluk adiknya penuh kasih.

“Jamais l’esprit (Tidak apa-apa). Aku akan bekerja lebih keras lagi supaya kita bisa makan yang lebih enak lagi,” ujar Jaejoong menghibur. Tangannya Ia gunakan untuk mengelus rambut hitam milik Junsu.

Jaejoong bisa merasakan kepala Junsu menggeleng. “Tidak usah, aku bisa saja berhenti les piano dan bekerja membantu frère untuk meringankan pekerjaan frère.” Kini belaian yang dirasakan Junsu di rambutnya berhenti.

“Jangan!” seru Jaejoong menatap lekat mata hitam Junsu. “Kau tidak boleh berhenti. Kau pernah bilang kepadaku kalau kau menguasai pelajaran terakhir dengan sempurna, maka kau bisa dikirim ke luar kota.”

“Tidak apa-apa, aku tidak mau meninggalkan kakak. Aku tetap ingin bersama kakak.”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau membuat kakak kecewa kalau kau berhenti sampai di sini,” ucap Jaejoong. Ada sirat kesedihan di mata hitam itu. Junsu bisa melihatnya dengan jelas.

“Baiklah, aku akan meneruskan latihanku ini.” Junsu mengatakannya dengan semangat. Ia tidak mau membuat kakaknya itu kecewa. Selama ini Ia sudah cukup membebankan penderitaan kakaknya itu.

Jaejoong tersenyum lagi. “Ini yang aku suka darimu.”

“Kakak!” Junsu sedikit bergidik mendengar perkataan kakaknya itu yang mengatakan suka terhadap dirinya.

Jaejoong tertawa. “Ya sudah, kita sarapan dulu. Keburu dingin buburnya jadi tidak enak.”

Junsu menarik kursi lalu menduduki. Ia mengaduk-aduk bubur itu agar hiasan di atas bubur itu ikut tercampur. Ia mengambil satu sendok penuh untuk disuapkan ke mulutnya.

“Wuah! Masakan kakak memang enak!” seru Junsu girang. Dia mengakui kalau masakan kakaknya selalu enak dan tidak pernah mengecewakan.

“Merci (terima kasih).” Jaejoong senang ketika mendapatkan pujian seperti itu.

“De rien (sama-sama),” balas Junsu.

Mereka kembali melanjutkan makanannya.

xoxoxoxox

Setelah sarapan selesai, Junsu bergegas untuk membersihkan diri. Memang, sehabis bangun tadi Ia tidak pergi mandi, karena tergoda oleh harum masakan milik kakaknya.

Selesai membersihkan diri, Junsu memakai pakaiannya. Dengan atasan kemeja berwarna putih polos dengan lengan panjang ditambah rompi hitam dan ditambah dengan aksen dasi kupu-kupu di lehernya dan juga celana berwarna hitam menyandingnya.

Merapikan rambutnya sejenak, Ia pun keluar dari kamarnya, menemui sang kakak.

“Kak, aku pergi les dulu!” katanya dengan nada yang sedikit berteriak.

Sang kakak─Jaejoong─ menghentikan kegiatannya membersihkan dapur untuk menyahuti perkataan sang adik.

“Ya, hati-hati!”

Setelah mengatakan seperti itu, Junsu langsung memakai sepatu hitam polosnya dan pergi ke tempat Sir Leeteuk, guru yang selama ini mengajarkannya piano. Ia pun menyampir tasnya ke bahu kanannya.

Hanya berjalan kaki dan menempuh waktu sepuluh menit, Ia sudah berada di kediaman Sir Leeteuk Algernon*. Di sana sudah ada berkumpul beberapa temannya yang ikut belajar piano bersama dirinya.

Sambil menunggu Sir Leeteuk hadir, Ryeowook Montgomery* atau yang lebih disapa Ryeowook, mengajaknya untuk berbincang-bincang.

“Junsu, kau sudah mendengar berita dari kerajaan?”

Yang dipanggil pun menoleh. “Berita dari kerajaan ? Sepertinya belum. Memangnya ada apa?” tanya Junsu. Dahinya mengernyit heran.

“Kau belum tahu?” Junsu hanya menggeleng.

Ryeowook mendesah pelan. Ia hanya maklum karena temannya satu ini selalu ketinggalan berita. Ia pun mulai bercerita.

“Katanya, dua hari yang akan datang Kerajaan Granville* akan mengadakan pesta untuk Pangeran.”

Junsu yang mendengarnya mulai tertarik arah pembicaraan ini.

“Pesta untuk Pangeran? Buat apa?” tanya Junsu.

“Yang kudengar dari orang-orang, pesta itu diadakan untuk pencarian jodoh untuk Pangeran. Tapi untuk jelasnya aku tidak tahu,” jawab Ryeowook sambil mengendikkan bahu. Ia mulai membuka buku partiturnya.

“Bukankah Pangeran itu sudah dijodohkan dengan Putri Odetta Victoria dari Kerajaan Sinclair*?” Junsu mengeluarkan buku partiturnya dari dalam tas, disusul dengan bolpoin.

Ryeowook membuang nafas lagi. “Pantas saja teman-teman di sini selalu mengejekmu, kau itu selalu ketinggalan berita. Putri Victoria itu kan tunangan dari Pangeran Nickhun dari Kerajaan Vernon*!” tukas Ryeowook kesal.

Junsu tertawa innocent. “Pardon (maaf), aku memang selalu ketinggalan berita.”

“Memangnya apa yang kau lakukan di rumah?”

“Aku kan di rumah selalu belajar sambil membantu kakakku,” jawab Junsu polos.

Ryeowook memukul kepala Junsu dengan buku yang dipegangnya. “Pantas saja otakmu itu pintar tapi selalu lamban kalau soal berita tentang Negeri sendiri. Sekali-kali kau membaca surat kabar!” ujar Ryeowook mengejek kebiasaan Junsu.

Junsu mendengus kesal. “Biar saja! Selama ini aku selalu menjadi yang terbaik!” Junsu membalas mengejek sambil menjulurkan lidahnya.

Ryeowook kehabisan kata-kata. Ia memilih diam sambil membuka buku partiturnya kesal dengan muka merajuk.

Melihat ekspresi Ryeowook, Junsu tertawa lepas.

Disaat itu pula, Sir Leeteuk datang ke ruangan yang ditempati oleh Junsu untuk mengajarkan piano. Di Negeri itu sendiri, Sir Leeteuk cukup terkenal dengan kepiawaiannya dalam bermain piano. Banyak sudah orang-orang yang mengagumi keahlian dari Sir Leeteuk. Tak jarang anggota kerajaan banyak yang menyewa sir Leeteuk untuk diundang dalam berbagai acara.

Seperti yang sudah diketahui, Sir Leeteuk membuka pelatihan piano secara gratis setiap tahunnya bagi orang-orang yang tidak mampu. Banyak sekali yang menginginkannya menjadi muridnya, salah satunya adalah Junsu. Dia sangat tertarik untuk mempelajari bagaimana cara bermain piano. Hal ini pun tidak disia-siakan oleh Junsu.

“Bonjour à tous (selamat pagi semua),” sapa Leeteuk dengan senyuman. Lesung pipinya muncul sehingga Ia terlihat begitu manis.

“Bonjour à tous, Sir Leeteuk,” balas semua muridnya serentak.

Leeteuk mulai duduk di singgasananya, menikmati kopi yang dihidangkan. Lalu dia pun mulai membuka-buka partiturnya yang kemudian Ia pelajari sedikit. Setelah tatapan matanya menyapu ke seluruh ruangan, mengamati anak muridnya satu persatu.

Sir Leeteuk menarik nafas sebelum berbicara. “Adakah di sini yang masih ingat pelajaran minggu kemarin?”  tanya Sir Leeteuk. Namun, semua anak muridnya menjadi lebih hening dari sebelumnya.

“Apakah ada yang bisa?” tanya Sir Leeteuk sekali lagi. Kali ini dia sedikit mengeraskan suaranya.

Sir Leeteuk membuang nafas pasrah. Mungkin sehabis ini, dia akan mengekstrakan pengajarannya.

Tapi, ketika Sir Leeteuk hendak mengeluarkan suara, sebuah tangan teracung ke atas.

Sir Leeteuk mengamati sang pengacung tangan. “Junsu, kau mau mencobanya?”

Junsu menganggukkan kepalanya. “Ouais (ya), Sir.”

“Silahkan…” ujar Sir Leeteuk mempersilahkan Junsu untuk memainkan pianonya.

Mula-mula Junsu meregangkan tangannya, melemaskannya agar saat jari-jemarinya yang menekan tuts piano tidak kaku. Setelah dirasa cukup, Ia mulai bermain.

Seakan tak mau merusak suasana, para murid dari Sir Leeteuk mengunci bibir mereka, guna mendengarkan sebuah simfoni yang tercipta dari jari-jemari milik Junsu. Junsu menikmati permainannya. Ia memejamkan matanya, menikmati sekaligus berkonsentrasi akan permainannya yang mampu membuat siapapun yang mendengarkannya akan terhanyut dalam melodi indah itu.

Permainan selesai. Sebuah tepukan berasal dari Sir Leeteuk diikuti oleh beberapa orang lainnya memenuhi ruangan itu. Sebuah senyum puas terukir di bibirnya.

“Très beau (sangat indah sekali), Junsu. Saya benar-benar menikmatinya, “ ujar Sir Leeteuk memberikan pujian.

Senyum merekah terpampang di wajahnya. “Merci, Sir Leeteuk.” Junsu menundukkan kepalanya tanda sopan kepada gurunya itu.

“Nada dari Sonata in A Minor* ini membuat saya terhanyut. Kamu sukses membawakannya dengan sangat baik. Kamu mengubahnya sedikit pada bagian klimaks dari nada ini, benar-benar sempurna. Mungkin kamu adalah pewarisku.” Sir Leeteuk tak henti-hentinya memberikan pujian kepada Junsu. Tak heran Junsu selalu menjadi anak emas dari Sir Leeteuk dalam kepiawaiannya dalam bermain piano. Hal ini membuat sebagian murid iri terhadapnya.

Rona merah karena malu terlintas di wajahnya. ”Merci, Sir Leeteuk.”

“Boleh saya tau kenapa kamu memakai lagu ini?” Tanya Sir Leeteuk.

Seketika raut wajah dari Junsu terlihat muram. Meskipun begitu, dia berusaha keras tidak menampakkannya di hadapan semuanya.

“Lagu ini khusus untuk Ibu saya yang sudah tiada. Ketika saya hendak memulai permainan piano ini, saya teringat akan Ibu saya. Jadi, saya menggunakannya dan membuatnya sedikit beda pada bagian klimaksnya,” ucap Junsu menjelaskannya panjang lebar.

Sir Leeteuk tersenyum lagi. “Benar-benar lagu yang tepat. Kamu boleh duduk kembali.”

“Merci…”

Setelah itu, Junsu pun kembali ke tempat duduknya. Ada berbagai tatapan yang datang menghampirinya ketika Ia mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ada yang menatapnya kasihan, ada juga yang memberikan tatapan iri. Junsu hanya bisa membalasnya dengan senyuman lembut.

“Tadi itu benar-benar hebat.” Kali ini Ryeowook yang memberikan pujian kepada Junsu.

“Merci.”

“Lain kali ajarkan aku, ya?” ucap Ryeowook meminta.

Junsu terlihat berfikir. “Boleh saja, asalkan ada bayarannya.”

Ryeowook memukul pelan bahu Junsu main-main. “Dasar kau!”

“Baiklah, kita mulai pelajaran kita selanjutnya.” Sir Leeteuk angkat bicara.

xoxoxoxox

TBC

xoxoxoxox

Keterangan:

Orane Junsu Pierre : Nama Orane artinya adalah Mendaki, sedangkan Pierre adalah kata lain dari Peter. Nama Pierre ini saya gunakan untuk nama keluarga dari Junsu dan Jaejoong.

Russell Jaejoong Pierre : Russell artinya merah.

Sir Leeteuk Algernon : Sir itu artinya Tuan, kalau Algernon adalah Kumis, kekekekek….

Ryeowook Montgomery : Montgomery artinya pemburu.

Kerajaan Granville : Arti Granville itu adalah Dari Kota Besar.

Odetta Victoria Sinclair : Odetta artinya Merdu & Lembut sedangkan Sinclair artinya Orang Suci. Oh ya, nama-nama kerajaan yang telah disebutkan itu digunakan untuk nama keluarga mereka juga. Contohnya Kerajaan Sinclair, Kerajaan Vernon, dan Kerajaan Granville.

Nickhun Vernon : Vernon artinya musim semi.

Sonata in A Minor : salah satu sonata yang diciptakan oleh Wolfgang Amadeus Mozart yang bernuansa kelam. Karya ini diciptakan oleh Mozart untuk ibunya yang sudah meninggal.

Maaf ya sebelumnya kalau chapter ini pendek. Setengah jadi soalnya ^^

Ada yang masih bingung ya kata-kata asing di atas? Silahkan ditanyakan…

Baiknya fic ini yaoi apa shonen-ai? Kalau yaoi kemungkinan ada lime 😀

Saya sangat membutuhkan kritik apapun dalam FF saya ini. Baik itu kesalahan kecil ataupun besar. Semisal ada tanda baca yang salah maupun kata-kata yang kurang tepat misalnya, silahkan utarakan saja tapi jangan flame lho, ok?

Iklan

About aryangevin

Still believing me. What do you see, then it's not me. There's just one way. Still believe, or leave.

13 responses »

  1. elenoir berkata:

    whoooooooagh niceee!!
    bahasanya emang bagus dan sedikit ke eropa2an hahaha *eh iya gak sih?? :p
    minta password buat ff lanjutannya dooongs
    makasiioih

  2. dwi retno irawati berkata:

    kereeeeeeeeeeeeeeeeeen, pke bhasa prancis….
    sekalian belajar bhasa prancis…..
    mnta pw na thor…….

  3. agisha berkata:

    woooww kerennnn pke bhs prancis euy,,
    jd warna bru ne buat ff yunjae,,^^
    klo yaoi or shonen-ai terserah author aja gmn enaknya
    yg pntg yg main yunjae,,,hihihiiii

  4. AgyruFun.Arsia.Tsukasa berkata:

    wah, saya paling suka dengan fic bergaya eropa!
    Jd bisa menambah ilmu *dr dulu bljr bhs prancis gagal mlulu #abaikan* skaligus terhibur dgn ceritanya 🙂
    lanjut!
    Keep write! X3

  5. Elisa Nancylia berkata:

    aaaaa…
    jaema ma junsu kasian…
    hiks….
    masakan jaema mank slalu enak
    top
    wkwkwkwk…

    pangeranny pst yunpa
    asiiiik
    ayooo jaema dtg k pesta iaa…
    jusnu keren ~!~!~!~!~!~!~!

  6. minnie berkata:

    Anyeong author^^
    Minnie ikut nimbrung ya? Boleh ya boleh?
    Mian acak2 wp author seenak jidat Yoochun *ditendang*

    Aku gereget lho sama FF ini *nah lho?*
    Abis pendeskripsiannya seakan2 aku tuh lagi nonton film *lebay*
    Tapi beneran deh aku ga bohong, suer (^_^)v
    Aku lanjut baca ya?

  7. LawRuuLiet berkata:

    dulu -tahun jebot- waktu masih jamannya ketololanku yg ga ngerti review dimana aku jd seorang SR, aku pernah baca fic ini di ffn klo ga salah. bener deh. n aku fall in love banget sama fic ini~ ga disangka aku ketemu lagi. kangen banget deh, T.T
    *peluk ff-nya* lol

  8. candy berkata:

    bagus bgt ^^
    aq suka latar critany..
    jarang” ad yg mw buat ff yunjae tpi yg gaya eropa gni ^^
    hehehehe..
    chingu, mnta password chap. yg brikutny donk ^^
    gomawo~

  9. shin meirin berkata:

    crita ff’y bgus.. pake bhs perancis jd bsa nambah ilmu bhsa asing.. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s