Title: Gloria

Genre: Western, Romance.

Rated: PG13

Warning: SLASH! AU, maybe OOC?, typo (maybe), gaje, dll dsb.

Disclaimer: DBSK © SM Entertainment

Don’t Like Don’t Read.

Seakan mendapatkan durian runtuh, Junsu pun bersenandung riang menuju rumahnya. Ia begitu bahagia mendapatkan pujian dari sang guru, yaitu Sir Leeteuk akan permainannya saat Ia berada di kediaman Sir Leeteuk. Lagipula Sir Leeteuk menawar sesuatu yang menggiurkan padanya. Ia akan memberitahukan berita gembira ini kepada kakaknya, Jaejoong.

Senyum merekah tak lepas dari bibirnya begitu Ia telah sampai di kediamannya. Ia meletakkan sepatu hitamnya di rak sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya yang bisa dibilang sederhana, kalau tidak mau dibilang gubuk. Meskipun sederhana, tetapi rumah yang Ia tempati bersama kakaknya ini sangat rapi dan bersih. Itu dikarenakan kakaknya yang selama ini merawat serta menjaga rumah mereka ini. Meskipun kadang-kadang ada saja debu yang menempel di sekitar celah-celah bolong rumah sederhana itu.

“Kakak!” panggil Junsu pada kakaknya. Tetapi tak ada suara yang menyahut.

‘Mungkin kakak masih kerja,’ pikir Junsu saat ini.

Ia melirik angka romawi yang tertera pada jam yang melekat pada dinding rumahnya. Menunjukan pukul 12 siang. Seharusnya jam segini kakaknya sudah pulang, namun entah apa yang membuat kakaknya itu terlambat pulang untuk istirahat.

Terdengar suara pintu berderit dari arah ruang tamu. Ia yakin bahwa itu adalah kakaknya. Maka dengan segera Ia melangkahkan kakinya menuju arah pintu itu. Senyum masih bertengger di wajah tampannya.

“Kak—“ perkataannya terhenti begitu melihat kondisi orang yang sedang menutup pintu rumahnya. Itu memang kakaknya, Jaejoong. Tapi kondisi pakaian yang robek disertai lebam di sudut bibir serta pipi kanannya membuat senyum di wajah Junsu memudar.

Junsu mendatangi kakaknya itu. melihat kondisi kakaknya membuat hatinya miris. Tapi Ia bingung kenapa kakaknya bisa pulang dalam kondisi babak belur seperti itu.

“Kakak,” panggil Junsu pelan. Tapi suara pelan itu sanggup membuat Jaejoong tersentak kaget.

Sang kakak menoleh ke arah Junsu. “Junsu?” sahutnya. Ada nada kegugupan yang terucap dari mulutnya. “Kau sudah pulang?”

“Oui (ya),” jawab Junsu singkat. Matanya terpaku pada lebam-lebam di wajah Jaejoong. “Frère pourquoi (Kakak kenapa) ? “ tanya Junsu khawatir.

Yang ditanya malah menyunggingkan senyuman. “Tidak apa-apa. Ini—“ Jaejoong menyentuh pelan luka lebamnya,”—gara-gara aku teledor. Aku tidak hati-hati dalam berjalan, dan… aku terjatuh.”

Junsu menggelengkan kepalanya. “Bukan. Aku tau ini bukan lebam akibat jatuh,” ujarnya. Mata hitamnya Ia sorotkan ke mata Jaejoong. Mencari kejujuran dalam mata hitam itu. “Katakan, apa yang terjadi, Kak?”

Jaejoong mendesah pelan. Ia tau kalau dirinya takkan bisa berbohong di hadapan adik lelakinya.

“kita bicarakan di dalam.”

Mereka berdua duduk pada sebuah sofa panjang yang tua dan lapuk. Tetapi, masih sangat nyaman untuk diduduki. Junsu membeli sekantong es pada penjual yang berada di sekitar rumahnya, sekaligus membeli obat merah dan kapas. Ia teringat persediaan bahan-bahan p3k di rumahnya hampir habis.

“Akh!” ringis Jaejoong saat bungkusan es tersebut menyentuh lebam yang ada di pipinya. “Bisakah kau mengompresnya pelan-pelan saja?” gerutu Jaejoong pada adiknya.

Adiknya hanya bersungut. “Begini saja sudah sakit,” kata Junsu sembari menekan-nekan lebam biru itu. Kali ini agak kasar.

“Akh! Kau berniat membuatku menderita?” seru Jaejoong seraya menatap tajam adiknya. Kadang-kadang adiknya yang satu ini sangat kejam dan menyebalkan.

Obat merah itu Ia oleskan ke lutut kaki Jaejoong yang terluka. Ternyata masih ada luka lain yang menghiasi tubuh kakaknya itu. Membalut lukanya dengan kapas, lalu merekatkannya.

“Nah, selesai.” Junsu tersenyum mengetahui pekerjaan mengobati kakaknya telah selesai.

“Terima kasih, Junsu, atas pengobatan ini.” Sang kakak memuji hasil karya Junsu.

“Sama-sama, Kak. Dan saatnya kakak menceritakan semuanya.”

Sebelum Ia mulai bercerita, Jaejoong mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya pelan.

“Kakak punya hutang pada seorang rentenir, Junsu.” Pernyataan yang terlontar dari mulut Jaejoong sanggup membuat Junsu melotot.

“Qu’est-ce? (Apa ?)” seru Junsu. “Jangan-jangan rentenir itu, Kangin d’Beaumont*?

Jaejoong hanya mengendikan bahu. “Tidak ada pilihan.”

Junsu menepuk keningnya. Kadang-kadang kakaknya ini sangat ceroboh dalam mengambil tindakan.

“Kakak… Kau tau sendiri Kangin itu seperti apa. Kita tidak akan bisa membayarnya kalau sudah berhutang dengannya.” Nada khawatir terdengar dari perkataan Junsu.

Jaejoong menghela nafas. Ia menyisir rambut depannya ke belakang. Butiran keringat melintas di pipinya. “Aku terpaksa, Junsu.”

Junsu mendengus. “Lalu, kapan kakak meminjam uang darinya?” tanya Junsu ketus.

Jaejoong mulai berfikir. “Kalau tidak salah… itu sudah sebulan yang lalu.”

“Lalu jangka waktu pembayarannya?” masih dengan nada ketus.

“Dua minggu.” Jeda menghiasi pembicaraan mereka. “Terlambat pembayaran dalam seminggu, maka bunganya akan naik menjadi… 20 persen.” Setelah mengatakan itu, Jaejoong menundukan kepalanya.

Junsu menghembuskan nafasnya. Ia tau bahwa berurusan dengan Kangin tidaklah mudah. Ia memijit pelipisnya. Entah kenapa Ia merasa pusing mendadak.

“Untuk apa Kakak meminjam uang dari mereka?” tanyanya seraya menatap kakaknya yang tertunduk di hadapannya.

“Untuk membeli makan kita. Waktu itu kakak kehilangan uang hasil kerja kakak karena dirampok. Jadinya kakak terpaksa meminjam pada rentenir itu,” jelas Jaejoong pada Junsu.

Terbesit perasaan bersalah melanda hatinya. Kakaknya memang ceroboh, tapi kakaknya sungguh orang yang peduli.

Junsu tertunduk. “Pardon moi (Maafkan aku),” ucap Junsu pelan. Hal ini membuat Jaejoong mengangkat kepalanya yang tertunduk.

“Eh?”

“Maafkan aku, Kak,” Junsu berucap menyesal.

Sekilas, kakaknya terlihat bingung hendak mengucapkan apa untuk membalas perkataan Junsu adiknya ini. Ia hanya menyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

“Ah, sudahlah… Kakak masih bisa membayarnya nanti,” kata Jaejoong menenangkan. Cengiran tadi berubah menjadi senyuman indah yang terpasang di bibirnya. Mau tak mau membuat Junsu ikut tersenyum.

Tiba-tiba Ia teringat sesuatu yang harus Ia sampaikan pada kakaknya ini.

“Kakak?”

“Ya?”

Senyum masih terpasang di bibirnya. “Aku ada berita bagus untuk Kakak.”

Mendengarnya membuat Jaejoong tertarik dengan arah pembicaraan ini. “Berita apa memangnya?”

“Aku akan diajak oleh Sir Leeteuk untuk menemaninya bermain piano di kerajaan, Kak!” serunya senang.

Mendengarnya, Jaejoong membulatkan matanya. “Benarkah? Itu bagus! Kapan kau akan bermain?”

“Err… masih lama sih.” Junsu mengetukan jari telunjuknya ke dagu. “Masih ada waktu tiga bulan lagi. Jadinya aku masih ada waktu untuk mempersiapkan diri.”

Senyum Jaejoong makin lebar. Ia lantas mengacak rambut Junsu saking senangnya.

“Kakak! Apa-apaan kau?” seru Junsu tak senang. Jaejoong hanya membalasnya dengan cengiran.

Tiba-tiba suasana di antara mereka menjadi hening.

“Eh Kak, aku masih ada berita lain lagi.”

Jaejoong mengernyitkan alisnya. “Apa?”

Entah ini berita penting apa tidak, hanya saja menurutnya ini harus diberitahu kepada kakaknya.

“Kakak tau Kerajaan Granville?” ucapnya ragu-ragu.

“Ya, tentu saja. Hanya orang bodoh yang tak tau dengan Kerajaan Granville. Memangnya ada apa dengan kerajaan itu?” tanya Jaejoong.

Junsu mendekatkan diri kepada kakaknya itu. Ia duduk di sampingnya. “Begini Kak, aku dengar kerajaan itu akan mengadakan pesta pencarian jodoh untuk pangeran yang ada di sana.”

“Lantas?” Jaejoong mengernyitkan dahinya.

Junsu berdehem. “Mmm… aku ingin datang ke sana,” ucapnya sambil menundukkan kepalanya.

“Untuk apa kita datang ke sana? Undangan itu pasti hanya untuk kalangan atas saja.”

Junsu menggeleng cepat. “Non (tidak). Pesta itu terbuka untuk segala kalangan, baik kalangan atas maupun kalangan bawah. Hanya saja…”

Jaejoong menyipitkan matanya. “Hanya saja—apa?” ia dapat melihat kesedihan di wajah adiknya itu.

“Hanya saja… diwajibkan untuk para gadis-gadis saja.” Junsu tertunduk lesu setelah mengatakan itu. Ia sungguh ingin pergi kesana. “Aku ingin sekali pergi kesana, Kak. Mencicipi bagaimana mewahnya pesta kerajaan dan juga pasti makanan di sana enak-enak.”

Jaejoong hanya menghela nafas pasrah. Bagaimanapun ada rasa iba juga melihat adiknya lesu seperti itu. Ia juga sadar selama ini ia tidak bisa memberikan makanan yang enak kepada adiknya itu. Harga pangan di pasar sungguh mahal, sedangkan gajinya saja belum mampu memberikan mereka makan tiga kali sehari. Belum lagi hutang-hutangnya yang belum terbayarkan.

Tiba-tiba saja muka Junsu yang muram itu mendadak cerah. Ia melirikkan matanya ke arah kakak laki-lakinya itu.

“Kak, aku punya ide!” serunya senang.

“Apa?” nada bicara Jaejoong juga diliputi penasaran.

“Tapi… kakak jangan marah dulu ya?” ujar Junsu ragu-ragu.

Jaejoong hanya memutar bola matanya. “Baiklah.”

Junsu mendekatkan bibirnya ke telinga kakaknya. Membisikkan sesuatu yang membuatnya mendadak senang tadi. Jaejoong mendengarkan dengan fokus, sampai kedua bola matanya melebar karena terkejut. Ia menarik diri dari adiknya itu.

“Apa? Tidak-tidak.” Jaejoong menggelengkan kepalanya. Junsu mengerucutkan bibirnya.

“Ayolah, Kak. Sekali ini saja,” pinta Junsu sambil memelas.

“Tidak. Kenapa tidak kamu saja?” Jaejoong tetap bersikeras dengan penolakkannya akan rencana yang ditawarkan Junsu.

Junsu mendengus. “Mana mungkin cocok kalau dengan aku sendiri.” Junsu kembali memelas kepada Jaejoong. “Ayolah, Kak. Lagipula muka kakak itu terlihat cantik, jadi sangat cocok apabila kakak menyamar jadi seorang gadis.”

Jaejoong melipat kedua tangannya di depan dada. “Tidak. Kalau seandainya ketahuan bagaimana? Kita berdua bisa di hukum gantung kalau sampai itu terjadi.”

“Tidak akan ketahuan kalau kakak bisa bersikap layaknya gadis.”

“Dan aku adalah seorang pris asal kamu tahu.”

“Tapi, setidaknya kakak tidak bersikap layaknya laki-laki. Kakak cukup datang ke kerajaan itu, lalu membaur dengan kalangan bawah dan bersikap seperti biasa. Sudah, itu saja. Lagipula, dulu saat masih kecil kakak sering didandanin dengan pakaian perempuan oleh ibu. Jadi apa bedanya?”

Jaejoong memberikan pelototan tajam kepada adik satu-satunya itu. “Itukan saat aku masih tujuh tahun. Dan jawabannya tetap tidak,” kata Jaejoong bersikeras.

Junsu mendesah pasrah. Kalau sudah begini ia tidak akan mengubah jawabannya. Harapannya jadi sia-sia untuk mengunjungi istana itu.

Melihat Junsu yang kehilangan semangat itu membuatnya merasa kasihan juga. Ia jadi berpikir kembali. Ia juga sebenarnya ingin memakan masakan kerajaan yang enak itu. ia kembali menatap adiknya itu dan menghela nafas pelan.

“Baiklah. Kali ini aku terima semuanya.”

Bola mata Junsu sejenak melebar. “Benarkah? Wah… terima kasih kakak!” serunya senang. Ia menyunggingkan senyum lebar.

“Tapi, bagaimana kalau ada yang mengenaliku saat di pesta nanti?” tanya Jaejoong khawatir.

“Tenang saja, Kak. Tidak ada yang menyadari kalau itu adalah kakak,” ucap Junsu dengan senyuman.

“Tapi, gaunnya? Tuksedo untuk pakaianmu? Darimana kita akan mendapatkannya?”

Mendengar pertanyaan kakaknya itu membuat Junsu tertawa singkat. Ia menepuk bahu kakaknya. “Tenang saja, Kak. Kakak tau? Sebelum kita pindah kesini dari tempat asal kita, aku sempat menyimpan gaun dari pakaian ibu dan tuksedo dari pakaian ayah.”

Jaejoong kembali menyipitkan matanya. “Kenapa aku tidak tahu?”

“Kenapa aku harus memberitahu kakak? Gaun dan tuksedo itu kan hanya aku simpan supaya aku bisa mengingat ibu dan ayah. Tidak ada yang lain.”

Jaejoong pun berdiri tempatnya. “Ya sudahlah. Tapi, bagaimana dengan riasan wajahnya? Tidak mungkin kan hanya berpolos saja?”

Junsu kembali tersenyum lebar. “Tenag. Kita minta bantuan Kak Yoona saja. Ia pasti bisa membantu. Lagipula Kak Yoona kan baik sekali dengan kita selama ini.”

“Yoona? Apa tidak merepotkan dia?” Jaejoong bertanya khawatir.

“Aku jamin ia akan membantu kita.”

“Ya sudahlah.” Jaejoong membalikkan tubuhnya. Ia menuju dapur. “Aku akan memasak untuk makan siang.”

Tiba-tiba Junsu bangkit. “Biar kubantu kali ini.” Dan Jaejoong hanya tersenyum.

.

#

.

Setelah kedua kakak beradik itu selesai makan siang, mereka membereskan semua peralatan makan yang kotor. Mencucinya sampai bersih kemudian mengeringkannya.

Junsu mengajak kakaknya itu menuju kamarnya, ada sesuatu yang ingin ia perlihatkan kepada kakaknya itu. Setelah masuk kamar, Junsu mengambil sebuah kotak yang cukup berdebu di bawah kolong tempat tidurnya. Ia meniup debu itu sampai terbatuk-batuk. Begitu juga dengan Jaejoong yang terkena efeknya.

“Nah, ini dia yang mau aku tunjukkan kepada kakak,” ujar Junsu sambil duduk di atas ranjang tidurnya diikuti Jaejoong yang duduk di sampingnya.

“Apa itu?” tanya Jaejoong mengernyitkan alis.

“Ini adalah gaun dan tuksedo kepunyaan ibu dan ayah yang aku ceritakan tadi.” Junsu pun membuka kotak yang masih sedikit tertempel debu. Di dalam kotak itu terpampanglah sesuatu yang bisa disebut gaun dengan warna merah yang begitu cantik. Junsu menyerahkan gaun itu kepada Jaejoong. Di bawah lipatan gaun itu terdapat sebuah tuksedo putih yang masih layak pakai dan tak ternoda. Ia mengeluarkannya dari kotak itu.

“Kak, coba kakak pakai gaun itu, apakah masih pas atau tidak. Kuharap itu cocok untukmu.”

“Tapi—“

“Tidak ada tapi-tapian, Kak. Sudah, coba saja dulu!” paksa Junsu agar kakaknya itu mau menuruti keinginannya itu.

Jaejoong mendengus kesal. “Baiklah!” Ia pun meninggalkan Junsu menuju kamarnya yang terletak di samping kamar adiknya itu.

Sementara itu, Junsu mulai melepas bajunya. Dengan hati-hati ia mencoba memakai tuksedo itu di tubuhnya. Setelah memakainya, ia bercermin, memandang dirinya dalam balutan tuksedo yang bisa dibilang sangat bagus.

“Ternyata pas sekali.” Ia mulai memutar-mutar tubuhnya untuk melihat penampilannya.

“Junsu, aku masuk!” sebuah suara terdengar dari luar yang berasal dari mulut Jaejoong.

“Masuk saja, kak!” sahut Junsu dari dalam.

Jaejoong pun memasuki kamar adiknya itu. Mengangkat gaunnya sedikit agar mempermudahnya untuk berjalan.

Junsu menatap kakaknya itu dari bawah ke atas. Ia terheran-heran. Tepatnya terpesona akan sosok kakaknya itu yang begitu ‘berbeda’ dalam balutan gaun merah darah itu. Itu terlihat sangat pas di tubuh kakaknya. Gaun itu sangat cocok sekali di pasangkan dengan tuksedo yang dipakainya. Gaul itu berlengan pendek dengan leher yang terbuka. Ada bagian renda yang mengelilingi dada dan bagian pinggang gaun itu. Manik-manik menghiasi di bagian bawah gaun tersebut. Sungguh, gaun itu begitu sempurna di tubuh kakaknya.

“Ada apa, Junsu? Kau menatapku aneh begitu,” ujar Jaejoong sewot. Ia memperhatikan kembali penampilannya. Ia mengakui dalam hati bahwa gaun ini begitu cocok di tubuhnya.

“Kak, kau memang benar-benar cantik!” puji Junsu yang malah terdengar seperti ejekan di telinga Jaejoong.

“Jangan menggodaku!” ia berkata malu.

Junsu menghampiri kakaknya itu lalu merangkulnya. “Aku sedang tidak menggoda kakak. Aku mengatakannya dengan bersungguh-sungguh. Kakak benar-benar cantik.”

Jaejoong hanya mendengus kesal mendengarnya.

.

#

.

Hari dimana perayaan pesta pun dimulai. Undangan pesta telah tersebar luas di seluruh pelosok negeri ini. Para gadis dari kalangan atas maupun kalangan bawah tengah kegirangan mendengar pesta yang akan diadakan di kerajaan Granville. Mereka sudah mempersiapkan segalanya sejak undangan itu diumumkan. Pesta itu akan dimulai pada malam hari.

Kedua kakak beradik itu—Junsu dan Jaejoong tengah sibuk di rumahnya untuk mempersiapkan segalanya. Yoona—gadis yang tinggal di samping rumahnya juga ikutan sibuk untuk membantu mereka. Setelah mendengar rencana mereka yang akan datang ke pesta kerajaan Granville, Yoona—atau lebih tepatnya Elle Yoona Frasier* yang berasal dari keluarga yang berkecukupan hanya tertawa. Hal itu membuat Jaejoong bersungut.

Kini malam hampir tiba. Jaejoong yanng tengah memakai gaun merahnya tengah dibantu oleh Yoona yang kini sedang berada dalam kamar Jaejoong. Yoona juga tengah membantu memasangkan rambut hitam palsu di rambut Jaejoong. Rambut hitam palsu itu cukup panjang, dan Yoona akan membuat rambut itu digelung ke atas, menyisakan beberapa helai tipis rambut di masing-masing pinggirnya. Yoona juga menambahkan beberapa aksesoris rambut miliknya untuk di pasangkan di rambut itu, untuk menambah kesan manis. Sebuah aksesoris jepit rambut berbentuk kupu-kupu berwarna perak yang berkilau indah.

Semuanya sudah jadi dan sekarang bagian periasan wajah di mulai. Awalnya Jaejoong enggan untuk dirias. Tapi setelah Yoona membujuknya, akhirnya Jaejoong tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Yoona begitu mengagumi paras wajah Jaejoong. Orang yang sudah ia anggap kakak ini terlihat begitu cantik meskipun ia adalah laki-laki. Ia mulai membedaki wajah putih Jaejoong. Mengoleskan pemerah bibir ke bibir kecil nan tipis milik Jaejoong. Lalu perona merah muda tipis di masing-masing pipi Jaejoong. Dan terakhir adalah bagian matanya.

“Auuww! Pelan-pelan, Yoona. Mataku sakit kau jepit seperti itu.”

“Iya, maaf. Aku akan hati-hati,” ucap Yoona lembut. Ia kini tengah melentikkan bulu mata milik Jaejoong. Dan setelah itu ia memberikan pewarna coklat muda tipis di masing-masing pelupuk mata Jaejoong.

“Nah, semuanya sudah selesai!” seru Yoona sambil tersenyum cerah.

Jaejoong memperhatikan dirinya sekali lagi. Ia tak berani menatap cermin saat ini.

Yoona hanya tertawa kecil melihat tingkah kikuk Jaejoong itu. “Kak Jae, kau benar-benar cantik. Aku saja begitu iri dengan semua ini.”

Mulut Jaejoong terbuka dan tertutup seperti ikan yang tengah kesulitan bernapas. Ia tak bisa berkata-kata saat ini. “Aaa…”

“Coba kakak lihat di cermin. Kakak juga tidak akan percaya dengan semua ini.”

Jaejoong membalikkan tubuhnya menghadap cermin. Awalnya ia memejamkan matanya. Tapi setelah itu ia membuka matanya pelan-pelan.

Jaejoong menatap sosok bayangannya yang ada di cermin tidak percaya. Ini semua benar-benar sempurna. Ia tampak seperti gadis sungguhan. Ia memegang wajahnya hati-hati takut riasan itu akan luntur. Sementara matanya terbelalak lebar. Ini semua… ia terlihat tak sanggup berkata apa-apa.

Wajah Yoona yang semula cerah kini nampak kebingungan. Jaejoong bisa melihatnya dari cermin. Ia membalikkan tubuhnya dan mendekat ke arah Yoona.

“Ada apa? Kau terlihat bingung seperti itu.”

Yoona menggigit bibirnya. “Sepertinya ada yang kurang.” Tanpa sengaja matanya menatap sendal yang dipakai Jaejoong. Ia tersenyum. “Ah! Benar juga. Kenapa aku bisa lupa begini!”

Jaejoong mengernyitkan dahinya, bingung.

“Sepatunya, kak. Aku akan kembali ke rumah untuk mengambil beberapa sepatuku. Kakak jangan kemana-mana, ya?”

“Aa—baiklah!”

Beberapa saat setelah itu, Yoona kembali dengan beberapa buah sepatu yang sekiranya cocok untuk Jaejoong. Ia menyodorkan sepatu itu ke hadapan Jaejoong.

“Coba ini.”

Jaejoong menurut saja. Ia mengambil sepatu itu dan memasangnya. “Agak kekecilan sedikit.”

“Bagaimana kalau yang ini,” ujarnya seraya memberikan sepatu berwarna putih.

“Ini juga sama.”

Yoona terlihat berpikir. “Ah, yang ini saja. Pasti cocok.”

Jaejoong mengambil sepatu itu. Dan ketika ia memasangkannya di kakinya, sepatu itu begitu pas.

“Nah, cocok, ‘kan?” Yoona tersenyum senang. “Sekarang sudah beres. Untuk masalah kereta, biar nanti aku akan minta tolong dengan kakakku untuk mengantarkan kalian.”

“Apa boleh?” tanya Jaejoong ragu-ragu.

“Tentu saja. Tidak perlu sungkan. Aku sudah anggap Kak Jae sebagai kakakku dan Junsu itu sebagai adikku sendiri.”

Jaejoong tersenyum. “Terima kasih, Yoona. Kau baik sekali.” Yoona hanya tersenyum lebar.

.

#

.

Malam telah menjelang. Beberapa gadis yang akan pergi ke pesta sudah berada dalam perjalanan menuju ke istana Granville. Sebagian ada yang ditemani orang tua mereka, baik itu dari pihak ayah maupun ibu. Tidak jarang ada yang berangkat dengan sang kakak maupun adik.

Kini kereta milik keluarga Yoona sudah berada di hadapan Jaejoong dan Junsu. Sementara sang kusir adalah kakak Yoona sendiri yang bernama Yesung. Yesung juga tidak keberatan untuk mengantarkan kedua kakak beradik itu. Yesung yang sempat terpana akan kecantikkan  Jaejoong—sahabatnya itu hanya merutuki dirinya sendiri. Ia lupa sesaat kalau Jaejoong adalah laki-laki. Junsu terkikik pelan setelah itu.

“Junsu, aku gugup sekali,” kata Jaejoong. Tangannya kini saling meremas gelisah. Saat ini mereka sudah ada dalam kereta.

Junsu memegang tangan kakaknya itu untuk meredakan rasa gugup itu. “Tenang, Kak. Ada aku disini.” Setelah itu ia tersenyum. Jaejoong hanya membalas dengan senyuman lembut. Mereka kini dalam perjalanan menuju istana Granville.

.

#

.

Suasana pesta sangat meriah saat ini. Para tamu undangan terlihat sedang menyapa anggota kerajaan. Ada juga yang sedang mencicipi makanan dan minuman yang telah disediakan. Ada juga yang memilih untuk berdansa dengan musik klasik yang menggema di kerajaan.

Terlihat raja dan ratu kerajaan Granville tengah sibuk melayani para tamu-tamunya. Sesekali mereka tertawa. Dan mereka juga kini sedang asik berbicara dengan orang-orang tanpa pandang bulu. Kerajaan ini terkenal dengan keramah tamahan mereka. Mereka tidak segan-segan untuk berjabat tangan pada kalangan bawah. Bagi mereka, rakyat tinggi atau rendah adalah sama.

Berbeda dengan raja dan ratu Granville, saat ini sang pangeran tengah duduk di atas kursi kebesarannya. Ia menyangga kepalanya yang terlihat sangat lelah untuk ditegakkan. Mata hitamnya memandang para gadis-gadis yang melirik dan tersenyum kepadanya. Ia hanya membalas dengan senyuman tipis dan membuat para gadis itu terkikik pelan sambil malu-malu.

Seorang pemuda datang menghampiri sang pangeran. Wajah yang rupawan tak henti-hentinya jadi incaran pandang para gadis di sana. Ia membalas dengan senyum ramah. Dan lagi-lagi para gadis dibuat terpesona oleh senyumannya.

Sang pemuda itu kini menepuk bahu sang pangeran pelan. “Hei, pangeran.”

Cukup terkejut dengan tepukan pelan itu, sang pangeran segera menghadapkan wajahnya ke arah pemuda itu. “Ah! Ternyata kau,” sahut pangeran. Ia pun menegakkan badannya.

“Tidak berdansa?” tanya sang pemuda.

“Sedang tidak ingin. Aku merasa bosan sekali, Yoochun.”

Pemuda yang bernama Yoochun itu tertawa. “Rupanya pangeran kita kali ini sangat bosan, eh? Dan juga seharusnya kau juga memanggilku dengan sebutan ‘pangeran’, Yunho.”

Sang pangeran yang bernama Yunho atau lebih lengkapnya Dartagnan Yunho Granville* ini hanya mendengus. “Malas,” ujarnya pendek.

Yoochun atau yang bernama lengkap Yoochun Mortimer dari kerajaan Mortimer * ini hanya tertawa kecil. Perlu diketahui bahwa Yoochun ini adalah sepupu dari pangeran Yoochun. Sama seperti Yunho, Yoochun adalah seorang pangeran di kerajaannya. Ayah dan ibunya adalah adik dari ayah dan ibunya Yunho, raja Granville. Namun sayang, saat ini hanya pangeran Yoochun saja yang bisa hadir di pesta semewah ini.

Yoochun tersenyum ketika sang raja dan ratu Granville menghampirinya dan Yunho. Ia membungkuk sopan sebagai bentuk hormat kepada paman dan bibinya.

Yoochun menegakkan badannya begitu sang raja dan ratu mendekat kepadanya. “Selamat malam, Baginda Raja dan Baginda Ratu.”

Sang ratu tersenyum. “Tidak usah formal begitu, nak. Panggil saja kami dengan seperti biasanya.”

Yoochun membalas senyuman ratu. “Baiklah, Bibi.”

Sang Raja pun memandang anaknya yang terlihat tidak bersemangat. “Ada apa, anakku? Sepertinya kau tidak sedang berminat pada pesta ini.”

Yunho pun tersenyum tidak enak kepada ayahnya itu. “Bukan begitu, ayah. Aku hanya merasa sedikit bosan.”

“Kalau begitu berdansalah,” usul sang ibu.

“Aku sedang tidak berminat, Bu. Lagipula belum ada gadis yang menarik perhatianku,” elak sang anak.

Sang ibu pun mengusap rambut coklat sang anak. “Kau itu terlalu pemilih, nak. Coba lihat para gadis-gadis di sana,” sang ibu membawa pandangannya kepada kerumunan gadis yang ada di depannya, “mereka semua capek-capek berdandan cantik hanya ingin berdansa denganmu, sayang,” ujar sang ibu lembut.

“Itu benar, anakku,” sang raja menimpali, “setidaknya berdansalah walau dengan satu gadis,” tambahnya.

“Tapi tetap saja aku yang tidak bisa menikmati dansa itu.”

“Kau ini,” sang ibu berkata, “Yoochun, kami titip Yunho dulu. Kami mau menemui para tamu undangan.”

“Baik, Bibi.”

“Ibu, aku bukan anak kecil. Aku ini sudah besar,” protes Yunho. Heran saja ibunya itu masih menganggapnya seperti anak kecil. Tapi dia juga yang menyarankan pesta pencarian jodoh ini untuknya.

Sang ibu tertawa. “Ya sudah.” Dengan begitu sang raja dan ratu pun meninggalkan mereka.

Yoochun membuang napasnya. “Sepertinya aku ingin berdansa dengan para gadis yang hadir di sini. »

Yunho mendengus. “Sifatmu yang suka mengencani para gadis benar-benar tidak berubah.”

“Siapa yang akan mengencani mereka?” ia menatap para gadis-gadis yang tersenyum padanya, “aku hanya bilang akan berdansa dengan mereka.”

“Tetap saja, ujung-ujungnya kau akan mengencani mereka.”

Yoochun tersenyum. “Sudahlah.” Setelah itu ia pun meninggalkan Yunho sendirian.

Yunho menghela nafasnya. Sungguh ia merasa bosan kali ini. Lantas ia bangkit dari tempatnya. Ia akan pergi ke suatu tempat untuk mengusir rasa bosannya. Ia pun memilih untuk ke beranda di lantai atas hanya sekedar untuk menghirup angin malam. Para pengawal kerajaan menunduk hormat ketika sang pangeran melintas di depan mereka.

Setelah sampai di sana. Ia menyandarkan diri di pagar pembatas. Angin malam menerpa wajahnya. Membuat rambut coklatnya berkibar. Matanya menatap langit malam. Begitu cerah dengan taburan bintang yang bertaburan.

Ketika ia memandang ke bawah, tak sengaja matanya menangkap kereta dengan tiga kuda tengah berada di muka istana. Ia memperhatikan kereta itu dengan seksama. Setelah beberapa saat matanya pun menangkap sesosok gadis bergaun merah keluar dari kereta itu dengan sesosok pria bertuksedo putih di sampingnya.

Dari atas sini ia tidak bisa memandang sosok gadis itu dengan jelas begitu pula dengan pria di sampingnya karena pekatnya malam. Tapi entah mengapa, ia begitu tertarik dengan sesosok gadis bergaun merah itu.

Yunho pun melangkah pergi dari beranda itu ketika sang gadis bergaun merah masuk ke dalam wilayahnya. Ketika ia sampai di tangga, ia bisa melihat dengan jelas wajah si gadis itu.

‘Cantik sekali, ‘ puji pangeran itu dalam hati.

Ia menuruni tangga itu pelan-pelan sambil matanya memperhatikan sang gadis bergaun merah itu. Gadis itu memisahkan diri dengan pria bertuksedo putih yang tadi bersamanya. Lebih tepatnya sang pria yang memisahkan diri. Gadis bergaun merah itu terlihat bingung dan kikuk. Ia juga melihat gadis itu tengah mengambil segelas minuman yang ditawarkan oleh pelayan.

Yunho memutuskan untuk menghampiri gadis bergaun merah itu.

.

#

.

“Kita sudah sampai.” Terdengar suara Yesung dari luar kereta diiringi dengan berhentinya kereta yang mereka tumpangi.

“Ayo, Kak, kita keluar,” ajak si adik kepada kakaknya.

“Tapi Junsu—“ terlihat raut wajah ragu-ragu yang terpasang di wajah cantik Jaejoong.

“Kak, kita sudah jauh-jauh datang kesini dari desa. Masa kita mau membatalkannya begitu saja? Kita semua sudah menyiapkannya sampai sejauh ini. Semuanya akan jadi sia-sia kalau begitu.”

Jaejoong terdiam untuk beberapa saat. Ia juga sebenarnya tidak mau mengecewakan adiknya. Namun, ia juga ragu-ragu dalam waktu yang bersamaan.

Junsu keluar dari kereta terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Jaejoong. Ia terlihat kesulitan keluar dari kereta dengan pakaian seperti ini. Namun, Junsu membantunya dengan memegangi tangannya.

“Apa ada yang ketinggalan?” tanya Yesung begitu mereka telah keluar dari kereta.

“Sepertinya tidak ada. Ah, terima kasih untuk semuanya, Kak.” Junsu menundukkan kepalanya sejenak.

“Sama-sama.” Yesung mengalihkan pandangannya kepada Jaejoong. “Kau… sempurna.” Senyum menghiasi wajahnya.

Jaejoong salah tingkah. “Aaa—terima kasih.”

“Kalian masuklah. Aku akan menjemput kalian kurang lebih dua jam lagi. Apa itu cukup?”

“Baiklah, kami akan menunggu di gerbang.”

“Baik. Aku pergi dulu,” pamit Yesung seraya menaiki kembali kereta kudanya. Dengan sekali cambukkan kepada kudanya maka kereta itupun pergi.

Junsu berjalan beriringan dengan Jaejoong di sampingnya. Tangan Jaejoong bertaut di lengan Junsu. Ia sedikit kesusahan berjalan dengan pakaian begini. Bagaimanapun ia adalah laki-laki yang tidak terbiasa dengan pakaian seperti ini. Ditambah lagi dengan sepatu kaca berhak sedang itu tambah mempersulitnya.

Sesampainya di depan pintu istana, mereka di hadapkan dengan dua penjaga dengan pedang di masing-masing pinggang mereka. Jaejoong menelan ludah gugup. Tapi sang penjaga itu hanya membungkuk dan membukakan pintu istana yang tertutup. Dan terpampanglah kemewahan pesta di depan mata kedua kakak beradik ini. Sejenak, mereka mengagumi dalam hati.

Mereka masuk ke dalam istana dengan decakan kagum. Ukiran-ukiran dengan seni tinggi menghiasi tiang-tiang yang berdiri kokoh. Musik klasik yang terlantun indah terdengar di telinga mereka. Makanan dan minuman mewah terjejer rapi di samping mereka. Dan juga ada beberapa pasangan yang sedang berdansa.

“Gadis-gadis di sini semuanya cantik-cantik,” decakkan kagum keluar dari mulutnya. Sang kakak hanya mengangguk mengiyakan.

“Kak, aku ke sana dulu ya?”

“Kau mau kemana?”

“Aku hanya ingin mencicipi makanan yang ada di sana. Terlihat enak sekali.” Dan sang adik pergi meninggalkan kakaknya.

Jaejoong bingung kalau sudah sendirian begini. Ia tidak mengenal siapa-siapa di sini. Dan itu menguntungkannya tanpa takut akan penyamarannya ketahuan. Dalam kegugupannya inipun ia jadi tidak bernafsu untuk mencicipi makanan yang terjejer rapi di sana. Ia bisa melihat adiknya itu tengah mencicipi berbagai makanan dan sedikit berbincang dengan para gadis.

Sang pelayan menghampirinya. “Nona, apakah Anda ingin minum?” tawar pelayan berseragam maid itu.

“Ah, tentu.” Jaejoong mengiyakan. Sang pelayan pun memberikan nampan yang berisikan minuman di atasnya.

Jaejoong mengambil gelas yang berisi minuman berisikan cairan bening. “Merci (Terima kasih),” ucap Jaejoong sopan.

“De rien (sama-sama),” balas pelayan itu sambil berlalu.

Jaejoong meminum isi dari gelas itu sedikit. Ia menatap gelas itu sebentar dan lagi-lagi ia mengagumi ukiran-ukiran detail dalam gelas itu.

“Pesta ini benar-benar mewah,” komentarnya pelan. Ia bisa melihat ada beberapa laki-laki yang tersenyum padanya. Jaejoong yang bisa membalas senyum itu dengan kikuk.

‘Aku ini ‘kan laki-laki,’ ucapnya dalam hati, pasrah.

“Mademoiselle*.”

Sebuah suara kini menyapanya dari arah belakang. Jaejoong terkejut sekilas. Lalu dengan hati-hati ia membalikkan tubuhnya.

Matanya melebar begitu mengetahui ada sesosok laki-laki tampang telah berdiri di hadapannya. Pria yang lebih tinggi sedikit darinya itu tersenyum kepadanya. Jaejoong meneliti wajah itu baik-baik. Dan tidak salah lagi. Pria di hadapannya adalah pangeran dari kerajaan ini, Dartagnan Yunho Granville, yang sering ia lihat melalui surat kabar namun tidak pernah bertatap muka dengannya. Rasa gugup menguasai Jaejoong.

“Mademoiselle, maukah Anda berdansa satu lagu dengan saya?” ucap pemuda itu.

Pernyataan itu membuatnya mematung. Ia tidak tahu apakah ia harus menerima ajakan pangeran di hadapannya ini atau tidak. Sungguh ajakan pangeran ini tidak pernah terlintas si otaknya.

Jaejoong melirik adiknya meminta kepastian. Namun sang adik malah mengangguk mengiyakan sebagai tanda bahwa ia lebih baik menerima ajakan dansa pangeran. Ia melirik di sekitarnya. Ia jadi pusat perhatian. Orang-orang kini tengah memandangnya.  Ada tatapan cemooh yang diberikan kepadanya. Ada juga tatapan kagum yang dihadiahkan kepadanya. Bahkan para pasangan dansa telah berhenti dari kegiatannya.

“Mademoiselle, apakah Anda mendengarkan saya?” tanya Yunho melihat gadis itu yang terdiam ragu-ragu.

“Ah, maafkan saya pangeran. Saya tidak bisa menerima ajakan Anda. Saya tidak bisa berdansa.” Ia memegang gelas kaca di tangannya erat.

“Tidak apa-apa. Anda cukup mengikuti saya.” Yunho mengambil gelas di tangan Jaejoong dan menyerahkannya kepada pelayan begitu pelayan tiba di sampingnya.

“Mari.” Yunho mengulurkan tangannya sebagai bentuk ajakan untuk berdansa.

Jaejoong terdiam. Ragu-ragu ia menerima uluran tangan dari Yunho. Yunho tersenyum seraya menggenggam tangan Jaejoong. Kemudian ia membawa Jaejoong hati-hati menuju ke tengah untuk berdansa. Sejenak mereka berdiri dalam diam. Kemudian Yunho memberikan tatapan kepada orang-orang di sekitarnya sambil tersenyum.

“Lanjutkan pestanya.”

Setelah ini Jaejoong merasa bahwa ia dalam masalah.

xoxoxoxox

TBC

 

Penjelasan:

Kangin d’Beaumont. Beaumont yang berarti indah.

Elle Yoona Frasier. Elle yang berarti wanita sedangkan Frasier artinya arbei.

Dartagnan Yunho Granville. Dartagnan yang berarti pemimpin. Sedangkan Granville artinya dari kota besar.

Yoochun Mortimer. Mortimer yang berarti air.

Mademoiselle bisa diartikan dengan nona dalam bahasa Perancis.

Maaf untuk update-an yang lama. Fic ini rada susah dibuatnya, makanya aku rada-rada malas juga buat ngelanjutinnya /plak! Setelah virus YunJae mulai menguasai aku, mulai rada semangat ngelanjutin ni fic ^___^

Bahasa Perancisnya sedikit ya? Mianhe karena aku juga nga bisa bahasa Perancis soalnya. Ini juga aku sedikit mengambil dari google dan pakai google translate. Maaf kalau nga sesuai.

 

Appa akhirnya ketemu umma juga! Hehehe… XD

Oh ya, bayangin juga kalau kerajaan Granville ini kaya kerajaan Versailles yang ada di Perancis. Aku ngebayanginnya gitu sih 😛

 

Hoooy! Adakah yang mau bikinkan aku cover buat fic ini? *puppy eyes no jutsu*

 

Sebenernya juga chap satu itu sampai ini. Tapi berhubung chap satu udah rilis, ya sudahlah…

 

Reviewnya ditunggu ya? Menerima semua kritikan yang bertujuan untuk membangun fic saya. Flame TIDAK DIBUTUHKAN. Ok? ^^

Iklan

About aryangevin

Still believing me. What do you see, then it's not me. There's just one way. Still believe, or leave.

10 responses »

  1. dwi retno irawati berkata:

    wah….bgus chingu, lanjut………
    mnta pw chap 3 na donk……mercy…..
    hehe

  2. agisha berkata:

    akhirnya yunjae ketemu jg,,,
    yun emg cocoknya jd pangeran,,kereeeeenn
    jae nekat euy nyamar jd cwe ntar gmn klo ktahuan,,
    chap 3 nya di protek y,,

  3. AgyruFun.Arsia.Tsukasa berkata:

    mademoiselle *betul gk?*
    semakin seru!
    Tp ksihan jg, jae jd babak belur d pukulin ma kangin hah… Kalau kangin nakal q ksh tw leetuk ntar!#kabur
    tp kok d putus pas seru2 sih!
    Lanjut! Btw bisa mnt pw chap 3?
    Trims 🙂
    keep write!

  4. my name is Dita berkata:

    oh em ji…
    Jaejoong jadi cinderela.!
    Wuahahahaha.!!!
    Kereeeen kak..!!!
    mauuuu dunk.! Pasword buatt Gloria chap. 3 ?????!!!

  5. little angel berkata:

    hmmm….
    Kaaaak… PW buat Gloria chap. 3 apa ?

  6. Elisa Nancylia berkata:

    AJJAJAJ
    IAAA LAH
    JAEMA VNTIK BGT
    BYANGIN AJ
    UDH KEBAYANG CNTIKNY KY AP
    PANTES AJ YUNPA SUKA MA JAEMA
    WKKWKW`KWKW….

    aaaaaa…
    ayooo jaema mau donk dansa ma yunpa
    ga ush amalu2

    minta pass chap 3 iaa
    email: jaejoongelisa@yahoo.com

  7. minnie berkata:

    Pertama bingung pas liat poto YunJae. Koq Jeje umma jd cwe? Bknnya dia jd cwo dsni?
    Tapi ternyata nyamar jadi cewe toh disini, kyaaaaaa umma pasti cantik banget deh *dirajam*
    Yoochun jadi pangeran? Aku mau jadi pasangannyaaaaa *dibunuh*
    Maaf ya author bikin rusuh, hehe
    Abis suka banget sama jalan ceritanya, kalo boleh aku mau minta password yang capther 3?
    Boleh ya? *puppy eyes*
    Ini alamat emailku : minnielupphkyu@yahoo.co.id
    Jeongmal gamsahamnida ya author^^

  8. LawRuuLiet berkata:

    khekekeke yesung tadi itu muji apa godain jeje ya? so cute deh!
    n jeje huhuhuhu~ so beautiful u.u
    aku coba gambar manga jeje yg cross dressing pake gaun putih yg di pic itu tuh author. abis cantik bgt! tapi kayak gatot, malah keliatan GS T.T ah taudah jeje kecantikan sih. #pundung
    aku kirim lewat email boleh? walau hasil jepretan hp doang u.u

  9. shin meirin berkata:

    jae mang cntik bgt mpe yunho takluk d’buat’y.. hehe
    pi gmn ya reaksi yunho klo tw jae tu laki”??

  10. muth berkata:

    Baca untuk kedua kalinya. Yang pertama di ffn, yang kedua di sini. Susah juga bayangin Jae pake gaun soalnya bayanganku gak sampe. -_-
    Minta password chap 3, kak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s