The Princess Boy

By Arya Angevin

DBSK, SJ, Shinee © SM Entertainment

Warning: Boys Love, Crossdresser and maybe possible OOCness.

Don’t Like Don’t Read

ENJOY

CHAPTER 4

Taemin membuka halaman selanjutnya pada buku yang dipegangnya. Sesekali ia menyeruput jus jeruk pada kemasan kotak yang ia letakan di sampingnya. Kini para murid-murid sedang dalam keadaan istirahat selepas menghabiskan waktu untuk belajarnya. Dan hari ini juga, tidak ada jadwal untuk pekerjaannya sebagai Princess. Dan Taemin beruntung, dengan ini ia bisa beristirahat.

Memang kalau ia sedang dalam mode Princess, ia akan mendadak menjadi seseorang yang begitu populer. Tapi kalau ia dalam wujud murid biasa seperti ini, maka jangan heran tak ada satu murid pun yang menyapanya. Bukannya mereka tidak tahu bahwa Taemin adalah seorang Princess, hanya saja dia maupun yang lainnya hanya terlihat menarik pada saat mengenakan pakaian perempuan di mata para murid.

Taemin menyeruput jusnya kembali, dan membalik halamannya, lagi. Buku biologi di tangannya itu sebenarnya sudah ia baca kemarin malam. Jadi sekarang ia hanya mengulangi apa yang ia pelajari, mengingat setelah istirahat usai, akan ada tes tertulis untuk mata pelajaran biologi. Untuk murid akselerasi sepertinya, tidak masalah kalau ia tak belajar sebetulnya.

Ketika Taemin hendak membalik buku itu ke halaman selanjutnya, kejadian naas menimpanya. Sebuah bola basket melayang dan mengenai bukunya dan terjatuh. Tak hanya itu saja, buku itu terjatuh tepat di selokan. Membuat buku itu menjadi basah karenanya. Taemin mendesah. Dengan pasrah ia mengambil kembali bukunya. Ia hanya bisa mendesah. Ternyata ia salah memilih tempat untuk membaca.

Tak hanya buku, bola basket yang menimpanya juga diambilnya. Dipandanginya bola basket bulat berwarna coklat di tangannya itu. Sehingga ada seseorang yang menghampiri Taemin dan berdiri di hadapannya.

“Ah, mianhae, Taemin-ah. Apa bola basket itu mengenaimu?”

Taemin mendongak saat seseorang itu berbicara padanya. Dan matanya sedikit melebar saat mengetahui siapa yang tengah berbicara padanya saat ini.

“A—ini—“ Taemin menjadi gugup karenanya.

Seseorang itu melihat ke arah buku milik Taemin yang tergeletak basah tak berdaya. Dan seketika wajahnya menunjukkan rasa bersalah.

“Sepertinya aku melakukan kesalahan dua kali kepadamu.” Ujarnya.

Taemin yang mengetahui apa yang orang itu katakan menolehkan kepalanya pada buku biologi yang tergeletak diam di sampingnya. Taemin pun menggeleng. “Ti-tidak! I-ini tidak apa-apa. Aku bisa menyalinnya kembali, Minho-hyung.”

Pemuda bernama Minho yang disebut Taemin tadipun mengambil buku biologi milik Taemin. Ia membuka lembaran demi lembaran, dan mendapati buku itu tak menunjukkan tulis tangan yang tidak jelas.

“Lihat,” tunjuknya pada buku di tangannya, “tintanya sudah luntur, dan bahkan tidak bisa dibaca. Kau bilang ini tidak apa-apa?”

Taemin mengangguk. “Ne, tidak apa-apa. Aku bisa meminjam catatan punya Sungmin-hyung untuk menyalinnya kembali.” Taemin tak menampakkan wajah sedih sedikitpun kepada Minho.

“Sebagai permintaan maafku, aku yang akan menyalin semua catatan itu, ne?”

Taemin menggeleng sebagai penolakan. “Ani, hyung—“

Minho merebut bola basket yang ada di tangan Taemin. “Kau tidak boleh menolak. Aku sudah beberapa kali berbuat kesalahan untuk buku catatanmu, dan biarkan kali ini aku yang bertanggung jawab. Ne?” setelah mengatakan itu, Minho pun pergi meninggalkan Taemin menuju ke lapangan basket, melanjutkan latihannya. Taemin hanya bisa terbengong ria di tempat.

Istirahat telah tiba. Tentu Sungmin menunggu saat-saat bersantai seperti ini. Ia sudah tak sabar ingin mencicipi makanan kantin yang lezat itu. Maklum saja, ia belum sarapan tadi pagi karena bangun kesiangan.

Ketika ia menuju ke kantin seorang diri, ia bisa melihat kantin tersebut sudah penuh akan murid-murid yang mengantri untuk memesan makanan. Rencananya ia akan mengajak Taemin untuk pergi bersama. Tapi kelihatannya diurungkannya saat melihat Taemin membawa buku catatan biologi. Sungmin bisa menebak bahwa murid akselerasi itu pasti akan mendalami pelajaran biologinya. Sungmin mendesah. Sudah berulang kali ia berkata kepada Taemin bahwa tanpa belajarpun anak itu pasti bisa mengerjakan tes tertulis tersebut.

Kini giliran Sungmin tiba. Ia mengambil makanannya dan menaruhnya pada nampan kosong di tangannya. Ia berbalik dan mencari, sekiranya dimana tempat duduk yang kosong untuknya makan. Dan ia mendesah, saat dilihatnya tempat duduk di tempat ini kosong semua.

“Min! Sungmin!” Merasa ada yang memanggil, Sungmin mengedarkan pandang. Ia mencari, siapa yang tengah memanggilnya itu. “Di sini!” Sungmin berbalik, dan menemukan teman satu kelasnya tengah melambaikan tangannya.

“Hae!”

Sungmin bergegas mendatangi temannya itu. Dan ia bersyukur kalau tempat duduk di samping teman satu kelasnya itu masih kosong.

Sungmin mendudukkan dirinya dengan nyaman. Ia bersyukur menemukan tempat duduk. Ia tak mau repot dengan membawa nampan makanannya ke kelasnya. Sementara jarak antara kelas dan kantin lumayan jauh.

“Untung saja masih ada yang kosong.” Sungmin memandang ke arah temannya itu. “Terima kasih, Hae!”

Donghae tersenyum. “Sama-sama, Sungmin-ah.” Donghae melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. “Kebetulan saja aku melihatmu yang sedang kebingungan mencari tempat duduk. Dan kebetulan lagi aku makan sendiri di sini.”

“Kau tidak bersama Hyukjae?”

Donghae menggeleng. “Dia… sibuk.” Dan kemudian terdiam.

Sungmin menyadari nada bicara Donghae yang tak biasa itu. Dan Sungmin bisa melihat raut wajah Donghae yang sendu itu. Dan Sungmin berasumsi bahwa temannya ini sedang dalam keadaan bermasalah.

“Kau bertengkar dengan Hyukjae?”

Donghae pun meletakkan kembali sumpit yang tadi dipakainya untuk makan. Ia mendesah. “Begitulah.”

Sungmin merasa iba dengan temannya ini. Ia pun mengusap punggung Donghae, mencoba untuk menyemangati namja itu. “Kau pasti bisa mengatasinya.” Ucapnya dengan senyum.

Melihat senyum Sungmin yang tulus itu, mau tak mau membuat Donghae ikut tersenyum. “Hahh… aku sangat beruntung mempunyai kau sebagai temanku.” Donghae tiba-tiba merangkul Sungmin, membuat Sungmin tersentak kaget. Dan tanpa aba-aba, Donghae mengacak rambut Sungmin.

“Ya—“

Brak!

Sungmin dan Donghae sama-sama mendengar suara yang cukup keras itu. Mereka memandang seseorang di hadapan yang tengah menghempaskan nampan yang berisi makanan tersebut.

“Boleh aku duduk di sini?”

Donghae mengerjap, kemudian menyeringai. “Silakan saja, Kyuhyun.” Ujarnya masih tetap merangkul Sungmin.

Ketika Sungmin melihat Kyuhyun yang duduk dengan memasang wajah datar, membuat senyum di wajahnya menghilang. Ia membuang pandang, sambil melipat kedua tangannya di dada. Sementara ia membiarkan tangan Donghae merangkul pundaknya.

Keheningan menjalari mereka. Donghae hampir menghabiskan sisa makanannya. Sementara Sungmin, dia terlihat kurang menikmati makanannya. Sementara Kyuhyun? Dia sedang menghirup kuah supnya dengan… sedotan?

Donghae tersenyum ganjil. Berbagai rencana tersusun di otaknya.

“Ya, Sungmin-ah.” Sungmin menoleh ke arah Donghae dengan tatapan bingung. Donghae hanya memamerkan senyumnya. Kemudian merebut sumpit yang dipegang Sungmin. “Kau makan lambat sekali.” Ia mengambil udang di piring Sungmin. “Buka mulutmu. Aa—“

“Apa yang kau lakukan, Lee Dong Hae?” Sungmin tampak memprotes dengan sikap Donghae. “Kembalikan sumpitku.”

Donghae menggeleng. Ia masih mengarahkan udang itu ke mulut Sungmin, meski Sungmin masih menolak. “Ayolah, Lee Sung Min. Biarkan kali ini aku menyuapimu, ne?”

Sungmin hanya pasrah saja.

Sementara itu, Kyuhyun yang melihat interaksi antara Sungmin dan Donghae pun membuatnya mendidih. Ia mencengkram ayam goreng di piringnya, lalu memakannya secara brutal. Oke, sebenarnya scene makan ayam goreng ini seharusnya milik Onew. Namun, karena dia belum mendapatkan peran atau bahwa dia tidak ada peran sama sekali (Onew langsung memakan sisa tulang ayam), maka scene diberikan oleh Kyuhyun.

Sekali lagi Kyuhyun mendidih. Dan kebetulan sekali air yang dimasak oleh tetangga si author sebelah juga mendidih.

Donghae menyeringai. Kilat-kilat kecemburuan terpancar jelas di wajah Kyuhyun. Sekali lagi, Kyuhyun mencengkram ayam goreng kedua, yang datang entah darimana dan juga ayam tersebut belumlah bayar. Maka dengan sangat terpaksa Siwon—sejak kapan ada Siwon?—membayar tagihan ayam tersebut.

Sungmin kini menyelesaikan acara makannya, tentu saja dengan bantuan Donghae. Ia pun bermaksud beranjak dari tempatnya, dan kemudian disusul oleh Donghae. Dan seenak jidat Yoochun yang lebar, Donghae pun kembali merangkul Sungmin. Sungmin tak keberatan, dan mereka kembali ke kelasnya.

Sekali lagi Kyuhyun mendidih. Dan bau terasi udang yang berasal dari tetangga sebelah author juga tercium. Lalu apa hubungannya? Tidak ada sama sekali.

Ada begitu banyak surat yang masuk. Dan ini cukup membuat Leeteuk, Heechul, dan Kangin yang berada di ruang OSIS pusing. Tidak menyangka, bahwa surat permohonan untuk ketiga Princess itu sebanyak ini.

“Apa surat-surat ini akan kita baca semua?” Ungkap Kangin yang tak berminat menyentuh surat-surat itu sedikit pun.

Leeteuk mendesah. “Tentu saja.”

“Dan apa surat permohonan ini wajib kita penuhi semua?” Heechul bertanya.

Leeteuk mendesah, lagi. “Tidak semua. Aku tak ingin para Princess itu mati kewalahan.”

“Baiklah.” Heechul berkata lagi. “Kita perlu menyeleksi semua surat-surat ini ‘kan? Dan dari sekian banyak surat itu, maka beberapa di antaranya akan kita kabulkan?”

Leeteuk menjentik jarinya. “Tepat sekali.” Kemudian setelah itu ia mulai membongkar surat-surat yang menggunung di atas meja di hadapannya. Matanya melirik Heechul dan Kangin yang Nampak membuka surat-surat itu satu persatu.

Leeteuk membuka amplop berwarna merah jambu, kemudian membaca isinya. “Tolong… jadikan aku kekasih dari Princess Tae.”

Leeteuk memutar kedua bola matanya. Tentu permohonan ini tak bisa dikabulkan.

“Tolong… potongkan… rambutku?” Selepas mengatakannya, Kangin mengernyitkan alis.

“Memang Princess kita itu banci salon?” Leeteuk mendesah. “Tolak.”

“Membersihkan toilet setiap hari?” Heechul berkata sambil melirik Leeteuk.

“Tolak.”

“Menyetrika baju?” –Kangin.

“Tolak.”

“Menyiram tanaman di halaman belakang?” –Heechul.

“Tolak.”

“Turunkan harga BBM?” –Kangin.

Leeteuk melotot. “Dia pikir kita anggota DPR? Tolak.”

“Membuat iwak peyek?” –Heechul.

“Iwak peyek?” Leeteuk tampak mengernyitkan alis. Dia merasa asing dengan dua kata tersebut. “Apa itu? Jenis obat untuk penumbuh rambut?”

Heechul mengendikkan bahunya. “Tidak tahu. Mungkin saja.”

Leeteuk menganggukkan kepalanya. “Sepertinya aku akan coba ramuan itu nanti.”

“Kau mengalami kebotakan, Hyung?” Kangin merasa heran dengan ketertarikan Leeteuk akan ramuan penumbuh rambut yang bernama Iwak Peyek tersebut. Padahal di antara mereka bertiga, tidak ada yang tahu apa itu Iwak Peyek. Apalagi nasi jagung. Tambah tidak nyambung.

“Bukan. Untuk kakekku.” Leeteuk membuka surat lainnya. “Tolak yang Iwak Peyek itu.”

Heechul kembali membuka surat-surat itu untuk yang kesekian kalinya. Kali ini dia mulai membacanya kembali. “Menjadi model gaun pengantin?”

“Tolak.” Tiba-tiba Leeteuk tersadar akan kata-katanya. “Bisa kau ulangi, Chullie-ah?”

Heechul mendesah. “Di sini, para Princess disuruh untuk menjadi model gaun pengantin.”

Leeteuk memegang dagunya. Mengambil pose berpikir, menimbang-nimbang permintaan yang tertulis dalam surat itu. “Sepertinya ini cukup menarik.” Leeteuk melirik Heechul dan Heechul pun menyeringai sadis. “Terima.”

Para Princess berdiri di hadapan Leeteuk dengan masing-masing bodyguard yang berdiri di belakang mereka. Changmin yang berdiri di belakang Taemin, Zhou Mi yang sedang mencari kut—maksudnya sedang berdiri di belakang Sungmin, dan Siwon yang sedang berdiri juga di belakang Jaejoong. Dan tentu juga para Princess sedang berdiri tepat di depan para bodyguard—bukannya sama saja ya?

“Jadi, ada apa kau memanggil kami kemari, Leeteuk-sshi?” Tanya Sungmin ketus. Ia saat ini sedang dalam keadaan mood yang kurang baik. Lihat saja tangannya. Menyilang di depan dada. Hebat kan?

Leeteuk masih bersantai di kursi kebesarannya. Ia masih memainkan amplop berwarna biru di tangannya. “Aku punya surat permohonan untuk kalian. Dan tentu saja ini bukan dariku.” Leeteuk menyerahkan surat itu. Dan dengan sigap Changmin mengambil dan menyerahkan kepada para Princess tersebut.

Para Princess terlihat penasaran. Jaejoong yang kebetulan menerima surat tersebut dengan gugup membukanya. Mereka menerka, apa isi surat tersebut.

Mereka membacanya dengan hati-hati dan teliti. Tak ingin melewatkan kata demi kata. Bahkan Heechul yang sedang merajut pun tak dihiraukannya.

1

2

3

“APA? MENJADI MODEL UNTUK GAUN PENGANTIN?” teriak ketiganya histeris dengan muka datar.

“Tunggu! Sepertinya ekspresi kita kurang histeris. Kita ulangi lagi.” Jaejoong memperalat sikap mereka yang tidak ada histeris-histerisnya.

1

2

3

“APA? MENJADI MODEL UNTUK GAUN PENGANTIN?” teriak ketiganya histeris dengan wajah terkejut dan mata melotot layaknya Susanna yang sedang menjadi hantu dalam film-filmnya. Tapi dengan ekspresi seperti itu, mereka seperti ikan-ikan yang menggelepar yang tengah berusaha berenang dengan air yang setinggi mata kaki. Tunggu, emang ikan punya kaki?

“Lebay deh.” Leeteuk berujar. Entah darimana kata lebay yang ia dapat. Kemungkinan ia mempelajari bahasa Indonesia sebelum mereka mengunjungi Indonesia untuk Super show 4 nanti. Tapi bukannya mereka mempelajari KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, tapi mempelajari KBBAI, Kamus Besar Bahasa Alay Indonesia. Dimana di dalamnya ada kata Gu3 3Lo 3nD.

Oke, lupakan.

“Apa kita… benar-benar… itu…” Sungmin yang tengah terkejut tak mampu menyelesaikan kata-katanya.

“Tentu saja.” Heechul mengiyakan perkataan Sungmin yang masih belum sepenuhnya percaya itu. “Ah, tentu kalian tak hanya menjadi model seorang diri begitu.” Heechul berkata yang membuat mereka sontak memandang Heechul dengan alis terangkat, bingung. “Jangan lupa kalian juga harus mencari model pengantin prianya juga.”

Mata mereka pun tambah melebar. “Pengantin pria? Apakah itu harus? Bukankah hanya kami bertiga saja cukup?”

Leeteuk menggeleng. “Tidak akan lengkap kalau tidak ada pengantin pria. Rasanya kurang pas.”

Jaejoong kembali memperhatikan surat yang ada di tangannya. Dan mengernyitkan alis. “Jadi… yang membuat surat ini adalah murid-murid dari kelompok pembuat majalah sekolah?”

Sungmin memutar bola matanya. “Pantas saja. Mereka pasti ingin meningkatkan rating majalah yang mereka buat agar peminatnya meningkat drastis.” Lalu kemudian melipat kedua tangannya.

Jaejoong tengah berpikir. ‘Pengantin pria, ya?’ Ia memegang dagunya. Sungguh… ia hanyalah murid baru yang tak mempunyai banyak teman. Ada sih yang berteman dengannya. Hanya saja tidak terlalu akrab. Hanya sebatas kenal begitu saja.

Jaejoong memperhatikan satu persatu penghuni yang ada di ruangan ini. Dan matanya tertuju pada salah satu pengawalnya. Jaejoong tersenyum cerah kemudian.

Kakinya melangkah indah menuju salah satu pengawalnya yang bertubuh tegap tersebut. Dengan senyuman lebar bin mulut yang berbau (bercanda deh), Jaejoong mengaitkan tangannya pada lengan salah satu bodyguard-nya.

“Aku pilih Siwonie saja, ne?” Ujarnya manja sambil mengedip-ngedipkan matanya ganjen. Sedangkan Siwon hanya tersenyum. Ia terlihat salah tingkah diperlakukan seperti itu oleh salah satu Princess.

Leeteuk memandang Heechul. Dan Heechul memandang Leeteuk.

Pandang.

Pandang.

Pandang.

Dan mereka semakin mendekat.

Dekat.

Dekat.

Dekat.

“Maaf. Bukannya aku menolakmu, Chulie-ah. Hanya saja kita bukan muhrim. Lagipula kita bukan couple di sini.” Ujar Leeteuk kalem dengan senyum tanpa dosa.

Heechul melotot. “Siapa juga yang ingin denganmu?” Heechul kembali membaca skrip yang tengah di serahkan author kepadanya. “Dan… scene saling mendekat di antara kita tidak ada di sini.” Heechul kemudian menyerahkan skrip itu kepada Leeteuk.

Ok, lupakan scene yang di atas.

Leeteuk memandang Heechul. Dan Heechul memandang Leeteuk.

Pandang.

Pandang.

Pandang.

“ANDWAE!” teriak keduanya tajam. Tentu mereka menolak apa yang akan Jaejoong lakukan.

“Tidak ada yang boleh menjadi pengantin pria dari pengurus princess di sini. Kalian harus mencarinya sendiri.”

“Tapi… bagaimana? Tanya Jaejoong memelas. “Aku tidak terlalu mengenal murid-murid di sini. Belum genap satu bulan aku berada di sekolah ini.”

“Dasar wong deso.” Jaejoong kembali melotot mendengar ucapan Heechul yang tidak ia mengerti. Heechul pun berdehem. “Maksudku, kau itu kan cantik. Apalagi kau itu adalah seorang Princess. Tentu menarik perhatian murid-murid di sini sangat mudah bagimu, bukan?” Ujar Heechul dengan senyum tersungging di bibirnya itu.

Jaejoong terdiam. Ucapan Heechul memang ada benarnya. Dirinya adalah seorang Princess. Bahkan hanya satu hari saja dia mempunyai banyak fans. Tentu dengan imingan senyum, para murid-murid di sini akan luluh.

Tapi… rasanya seperti murahan?

Jaejoong menggeleng. Mengabaikan kalimat yang sempat dipikirkannya tadi.

“Besok pemotretan akan dimulai. Kalian hanya punya waktu satu hari ini untuk mencari pasangan kalian.”

Begitu Leeteuk mengatakannya, semua orang yang ada di ruangan OSIS tersebut membubarkan diri.

Sepanjang jalan kenang—maksudnya, sepanjang jalan koridor Taemin terus saja menyunggingkan senyuman manisnya. Tentu jam istirahat belumlah dimulai, dan nampak sekali tidak ada satu pun murid yang lewat.

Pengantin pria, ya? Pikir Taemin sembari senyum tetap terlukis di bibirnya. Tentu ia sudah mendapatkan seseorang yang ingin diajaknya sebagai pengantin pria. Tapi masalahnya… apakah dia mau? Taemin mendesah. Tentu akan sangat terasa kecewa sekali apabila ia menolak tawaran Taemin.

Taemin melihat ke arah lapangan basket. Kentara sekali bahwa teman-teman sekelasnya tengah berolahraga. Tentu saja, sekarang kan jam olahraga. Maka dari itu ia memutuskan untuk menghampiri mereka.

Dengan mengangkat sedikit gaunnya, Taemin berjalan dengan cepat menuju lapangan basket. Kelihatannya sedang ada pertanding basket yang dibagi dalam beberapa kelompok. Dan Taemin bisa melihat bahwa dia sedang duduk menyaksikan pertandingan di pinggir lapangan. Senyum antusias tersungging di bibir Taemin.

“Waa… Princess Tae!” seru salah satu teman kelasnya yang membuat Taemin sedikit terkejut. Para pemain kini tak lagi memperhatikan pertandingan, melainkan mengalihkan pandangannya ke Taemin.

“Apa… aku mengganggu kalian?” Tanya Taemin kalem sambil tersenyum lembut. Karena senyuman Taemin yang manis itu, membuatnya terkenal sebagai ‘Smile Princess’.

Tentu para murid serempak menggelengkan kepalanya, dan sang guru yang mengajarpun ikut menggeleng. “Tentu saja tidak, My Princess.” Mereka menjawa serempak.

Taemin tersenyum lagi, bikin giginya kinclong. “Aku ada keperluan dengan seseorang yang bernama Choi Min Ho.” Taemin melirik sekilas ke arah Minho.

Tampak para murid serentak kecewa, dan sekali lagi sang guru pun ikut-ikut kecewa. Meski sudah punya bini, tetap saja dia juga ngarep buat mendapatkan Taemin.

“Kukira Princess Tae ke sini untuk menjadi cheerleader.”

Taemin hanya tertawa garing. Sementara itu Minho tampak kebingungan dan menunjuk dirinya sendiri, memastikan bahwa benar dirinya yang diperlukan. Dan Taemin mengangguk sebagai jawabannya.

Minho berdiri dari duduknya dan membersihkan celananya yang terkena debu. Kemudian ia pun menghampiri Taemin yang berdiri agak jauh dari tempatnya berada.

“Ada apa?” Tanya Minho kalem, bikin Taemin merasa bahwa pipinya kini memerah. Ia memandang sekitar, dan merasa bahwa pembicaraan ini haruslah privat.

“Bisa kita berbicara di tempat lain saja? Kurasa ini penting. Dan aku… tak mau mengecewakan beberapa orkang yang ada di sini.”

Minho sedikit tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Taemin. Dan jarang-jarang juga Taemin menghampirinya dalam mode Princess seperti ini. Tapi, Minho juga penasaran apa yang ingin dibicarakan oleh Taemin.

“Kita ke taman depan.”

Suasana taman depan begitu sepi. Tentu saja, para murid masih belajar, jadi hanya mereka berdua yang ada di sana. Sejenak, Taemin merasa ragu-ragu sekaligus gugup membuat jantungnya berdetak lebih kencang seperti genderang mau pecah—itu lirik lagu Dewa?

“Jadi, ada apa?”

“Mengenai buku yang kemarin—“ Taemin menggigit bibirnya, “—buku biologi yang hyung jatuhkan itu… apa bisa diganti dengan permintaan lain?” Taemin menatap Minho dengan takut-takut.

“Permintaan lain?” Minho mengernyit. “Boleh. Tapi permintaan apa?”

Taemin menarik napasnya lalu mengeluarkannya perlahan. “Begini, aku memiliki misi yang dinamakan misi princess. Jadi misi itu adalah bahwa para Princess diminta untuk menjadi model foto dengan menggunakan baju pengantin. Selain itu para Princess juga disuruh untuk mencari pengantin prianya. Dan…”

“Dan?” Minho membeo.

Taemin tarik napas lagi. “Dan… apa hyung bisa menjadi pengantin priaku?” Tanya Taemin gugup. Taemin berharap Minho bisa menerima permintaannya ini. Walau terdengar aneh.

“Aku serasa habis dilamar.”

Taemin melotot mendengar perkataan Minho yang membuatnya merasa malu.

“Hyung—“

“Baiklah. Aku terima.”

Taemin melotot lagi. Untung biji matanya tidak keluar. “A-apa?”

“Aku menerimanya, Taemin-ah.”

Mendengar permintaannya dipenuhi, membuat Taemin hampir melompat kegirangan, kalau saja dia tidak ingat bahwa ia sedang memakai sepatu berhak tiga sentimeter, dan memakai dress. Jangan lupa wig yang juga terpasang. Jadi untuk sementara ini Taemin menunda acara lompat melompatnya.

TBC

Baru nyadar kalau fic ini genrenya humor. Semoga humornya kerasa ya :3

Sorry sorry and mianhe udah lama banget update. Sebenernya ini udah lama selesai, cuma nga sempet aja posting ke blog. Dikarenakan saya sibuk banget ama tugas kuliah, ditambah lagi senin depan UTS T^T

Belum lagi galau gegara SS4INA -___-

Saya mau hiatus dulu ya, sekitar 2 atau 3 minggu, soalnya mau UTS. Saya update sesempetnya aja ya.

Makasih udah yang mau komen :3

Special bonus, chapter ini nga dikunci sebagai permintaan maaf karena terlambat update. Kalau mau minta pw chap sebelumnya, silahkan komen dulu chap ini atau chap satu atau prolognya, biar aku kirim lewat email.

Atau kalau udah komen dan belum dapet pw, bisa tagih ke twitter saya @AryaAngevin

Minta komennya boleh? :3

Iklan

About aryangevin

Still believing me. What do you see, then it's not me. There's just one way. Still believe, or leave.

11 responses »

  1. my black smile berkata:

    kyaaa…
    kira2 siapa yg bkl dipilih ming ? moga kyu..*do’a barengkyu
    kyumin blm ada kemajuan ya..

    lanjuut thor..

  2. chosaricute berkata:

    kenapa permintaannya rada2 aneh semua, dikira para princess pembantu ya, permintaannya segitu amat
    ff nya makin seru chinggu, ditunggu kelanjutannya ya…

  3. mei.han.won berkata:

    #ngakak dlu….hahhahahahahahaa…
    Lucuuu…hehehe
    Taemin ganjen’x keluar…yelah si kiyu2 cemboro…kalo cemboro lngsng sikat aja itu si umin…hahaha..
    ini permintaan’x ngaco semua..se ngaco author’x…*kabur* :p .v.
    Next chap hrus lebih panjangggg…hahaha…
    btw…nntn jae psti ama yunyun kn..trus si umin sma si kiyu…hahaha

  4. laven berkata:

    keren 😀

    gw suka hahah #ngakak

    v mana ya FF glorianay?? kok gw blm liat??

    plus minta passnya ya pliss, gw penasarn nuh…

    thx 🙂

    • Aryana berkata:

      Coba kamu lihat di postingan sebelumnya. Aku ada ngepost 3 chapter FF Gloria. Klik aja older post. PWnya udah aku kirim ya, cek emailnya ^^

  5. LawRuuLiet berkata:

    hahaha author ngidam terasi udang tetangga kah? deskripnya humor kali. padahal chap sbelumnya ga ada humor2nya, jadi sempet bingung chap 4 ini kok deskrip-nya beda, brubah humor, n baru ngerti pas author bilang bergenre humor.

    aih, 2min moment kalem banget ya, tapi sweet deh 🙂
    kapan nih yunjae-nya? aku dah siap kamera buat jepret2 nih. lol.

    btw, mau tanya deh. aku agak bingung ya ttg penampilan 3 princess nya. mereka mulai kerja jadi princess n pake gaun itu dari pagi awal sekolah kah? saat belajar, istirahat, juga kah? engga kan? =_=
    jah, haha aku minta dong jadwal mereka~ ya~ 😉
    n aku punya surat permohan nih, pengen bgt mereka show! nyanyi or apalah kayak girlband. hahaha pasti heboh #plak

  6. Heepetals berkata:

    Pantesan aku bingung pas buka ini kok gak diprotect, hahaha err… Baguslah ehehe

    akhirnyaaaa!
    Kyumin! Chap depan ada kyumin moment nya yaaaaa~

    ada hanchul gak disini? Adain dooong~ yayayaya?

    Err, Itu yang “-maksudnya,…” dan terasi2 itu yg diluar cerita inti, rada ngerusak suasana kayaknya ehehe

    okee, chap depan ditunggu yaaa haha

  7. min190196 berkata:

    OMO ~
    semoga minppa milih kyuhyun deh, masih belum berasa ni kyuminnya ^^v

    ditunggu chap selanjutnya eonnie^^

  8. dwi retno irawati berkata:

    kyumin kyumin kyumin……
    yunjae yunjae yunjae…..
    bawa banner yunjae n kyumin yg gedhe bwt demo dpn rumah author……hehehe

    ngakak baca omongan minho yg blg “serasa habis dilamar” hehehe daebak chingu
    ditunggu chap dpan

  9. Shin berkata:

    Masih lama kah hiatusny??? Aq menunggumu…menunggumu..menunggumu..masihhhh menunggumu#peterpan
    hihihi jaema jarang kluar y scene ini kyumin ma 2min doank yunjaeny mana???

  10. viadanbo berkata:

    ngakak pas baca surat requestan dr para siswa, napa para princess jd kayak babu hehehe.. kyumin momentnya ditambah dunk, kapan ni sungmin bisa nerima kyu?
    kasian liat kyu cemburu ma hae..

    ditunggu next chapnya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s