Diproteksi: The Princess Boy [Chapter 2]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

The Princess Boy [Chapter 1]

The Princess Boy

By Arya Angevin

DBSK, SJ, Shinee © SM Entertainment

Warning: Boys Love, Crossdresser and maybe possible OOCness.

Don’t Like Don’t Read

ENJOY

 

CHAPTER 1

 

Jaejoong memandang sekolah megah di hadapannya. Ia terpukau, sungguh. Di tempat sekolahnya yang lama, bangunannya tidaklah seluas, sebesar, dan semegah ini. Apalagi sekolah ini memiliki asrama, dimana semua murid yang terdaftar di sekolah yang bernama Super Shinki ini wajib tinggal di asrama. Tak Jaejoong sangka, menerima tawaran ayahnya untuk pindah sekolah ke sekolah yang megah ini adalah hal yang bagus. Apalagi pemandangan sekolah ini cukup menyenangkan.

 

Tapi sayang… ini adalah sekolah khusus laki-laki. Dimana tak ada satu pun seorang gadis yang akan berkeliaran di tempat ini. Oh, ayolah… Jaejoong adalah seorang laki-laki. Tentu mata hitamnya itu butuh pemandangan sejuk gadis-gadis seksi untuk penyegaran, bukan hanya mengenai pemandangan alam saja.

 

Dengan jinjingan tas di tangannya, ia melangkah maju menuju halaman sekolah yang begitu luas ini. Udara yang sejuk, sungguh membuat Jaejoong ingin menghirup udara di sini berkali-kali.

 

Mata hitamnya mengelilingi di sekitarnya dengan teliti. Mengingat setiap detail tempat yang akan ia lihat berulang kali nanti. Semoga saja ia akan bertahan lama di sekolah ini sampai lulus nantinya.

 

Ketika Jaejoong membelokkan diri ke kanan, ada seseorang yang menabraknya. Membuatnya sedikit terjungkal ke belakang. Tapi dengan sigap ia bisa mengembalikan posisinya seperti semula. Tapi tidak dengan seseorang yang menabraknya itu. Seseorang itu hampir saja terjatuh kalau saja Jaejoong dengan refleks memegang pinggangnya dan menahannya agar tidak jatuh.

 

Orang yang menabrak tadi hanya memejamkan matanya, menunggu saat-saat dirinya jatuh ke lantai. Tapi, tubuhnya tak merasakan sakit sedikitpun. Malah, ia merasa ada seseorang yang menahan pinggangnya. Membuatnya terasa mengambang. Ia pun memberanikan diri untuk membuka matanya dan terlihatlah sepasang mata hitam menatap dirinya dengan seksama.

 

Orang itu mengerjapkan matanya berulang kali. Begitu pula Jaejoong, ia berulang kali mengerjapkan matanya, memastikan matanya itu tidak benar-benar dalam keadaan terganggu.

 

Merasa posisinya tidak nyaman, sang penabrak itu pun mencoba berdiri dari posisinya. Dan Jaejoong pun membiarkan posisinya berubah. Dengan cepat-cepat sang penabrak membungkukkan badannya untuk meminta maaf.

 

Mianhamnida karena sudah menabrakmu.” Ucap sang penabrak dengan badan yang masih membungkuk.

 

“Taemin-ah!” Panggil seseorang dari kejauhan. Sang penabrak segera menegakkan badannya kembali. Ia menolehkan kepalanya ke samping, dan menemukan hyung-nya sedang berlari menuju ke arahnya.

 

Hyung…” sahut orang yang bernama Taemin itu dengan pelan.

 

Gwencana? Kau tidak terluka?” Seseorang yang baru datang itu memeriksa keadaan Taemin yang memang jauh dari kata terluka.

 

Ani.” Ucap Taemin sambil menggeleng. “Gwencana yo, Hyung.” Matanya pun melirik ke arah Jaejoong yang masih belum mengatakan apapun. “Justru orang ini yang menyelamatkanku tadi.”

 

Seseorang yang menghampiri Taemin tadi pun menoleh kemudian membungkukkan badannya. “Terima kasih.”

 

Jaejoong tak berkata apapun. Ia masih terpaku, terdiam, menatap kedua orang di depannya ini dengan tatapan tak percaya.

 

“Taemin-ah, kita harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Sebelum orang-orang itu menemukan kita dan menyuruh kita melakukan ini itu.”

 

Taemin mengangguk. Dengan cepat orang itu menarik tangan Taemin dan meninggalkan Jaejoong sendirian di tempat ini dengan tubuh yang masih terdiam tanpa bergerak…

 

Matanya tidak sedang dalam keadaan sakit ‘kan? Setahunya matanya normal-normal saja. Atau ini hanya khayalannya saja?

 

Baru saja Jaejoong menemukan seseorang yang sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih dengan rambut panjang yang bergelombang, dan juga seseorang yang menghampirinya juga dengan rupa yang tak kalah cantik dan rambut tak kalah panjang bergelombang.

 

Jaejoong menatap surat kepindahan sekolahnya yang berada di tangannya. Ia membaca dengan seksama. Dan memastikan bahwa ia tak salah masuk ke dalam sekolah yang akan ditempatinya nanti.

 

Tapi… KENAPA ADA DUA ORANG GADIS CANTIK DI SEKOLAH INI YANG JELAS-JELAS MERUPAKAN SEKOLAH KHUSUS LAKI-LAKI?

 

What the hell?

 

Apa yang baru saja terjadi? Apa ia bermimpi? Jaejoong menepuk kedua pipinya, dan bisa ia rasakan bahwa pipinya terasa sakit.

 

Entah mengapa kepalanya mendadak sakit. Mungkin keterangan mengenai sekolah khusus laki-laki di surat kepindahannya ini adalah sebuah kesalahan. Mana mungkin ada dua orang gadis di sekolah khusus laki-laki?

 

Dan juga… MANA ADA SEKOLAH YANG MEMAKAI GAUN SEBAGAI SERAGAMNYA?

 

Tunggu dulu! Jaejoong ingat satu hal… bukankah orang yang seingatnya bernama Taemin itu memanggil seseorang yang satunya itu dengan sebutan… Hyung? Tentu Jaejoong memiliki pendengaran yang sangat bagus, ia tidak mungkin salah dengar bahwa orang yang bernama Taemin tadi mengucapkan kata ‘hyung’ untuk orang yang Jaejoong tidak tahu namanya. Bukankah ‘hyung’ digunakan untuk laki-laki? Seharusnya orang itu memanggilnya ‘unnie’ kan?

 

Jaejoong memijit kepalanya yang terasa sakit. Kejadian aneh di sekolah barunya ini membuatnya pusing. Akan ia tanyakan nanti saat ia berada di ruangan kepala sekolah.

 

Bruk!

 

Tubuhnya lagi-lagi menabrak atau tertabrak seseorang. Entahlah… yang mana yang benar. Tapi kali ini Jaejoong tak memiliki reflek yang bagus sehingga tubuhnya akan menyentuh lantai. Tapi… seseorang menahan pinggangnya. Jaejoong merasa… de javu?

 

Gwencana?” tanya orang itu yang masih memeluk pinggang Jaejoong. Jaejoong hanya mengerjapkan matanya sebagai balasan. Ia tak sadar dengan posisinya sekarang. Sampai beberapa detik berlalu akhirnya Jaejoong menyadarinya. Buru-buru ia menegakkan badannya kembali.

 

Gwencana.” Sahutnya, malu. Ia mengusap bagian belakang lehernya.

 

Orang yang ada di hadapan Jaejoong pun menatap Jaejoong lekat. Ia tak mengenal pemuda ini sebelumnya. Bahkan rasanya… ia baru pertama kali melihat pemuda ini.

 

“Aku baru pertama kali melihatmu. Apa kau murid baru di sekolah ini?”

 

Jaejoong mengambil lagi tasnya yang terjatuh dan menatap pemuda yang ada di hadapannya. “Ne. Aku murid baru di sini.” Jaejoong melihat ke sekelilingnya. Dan baru menyadari bahwa ia hanya berdua saja di tempat ini. “Apa kau bisa membantuku?”

 

Sang pemuda itu mengangguk. “Apa?”

 

“Apa kau tahu dimana ruang kepala sekolah berada?”

 

Sang pemuda itu tersenyum. Yang Jaejoong akui senyumannya itu menawan. “Ah, kebetulan sekali aku sedang menuju ke sana. Mari ikuti aku.” Ajak sang pemuda kepada Jaejoong. Jaejoong hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya.

 

Mereka berjalan dalam keheningan. Tak tahu harus mengangkat topik apa yang ingin dibicarakan. Apalagi Jaejoong malah asik mengedarkan pandangannya pada pemandangan di sekitarnya. Mungkin ia ingin melihat-lihat apa-apa saja yang terdapat di dalam sekolah ini.

 

“Oh, aku lupa sesuatu.” Jaejoong menoleh. Mengernyit heran apa yang diucapkan pemuda itu. “Namaku Yunho. Jung Yun Ho. Bagaimana denganmu?”

 

“Kim Jae Joong. Kau bisa memanggilku Jaejoong, Jung-ssi.”

 

“Baiklah, Jaejoong-ssi.” Yunho menatap Jaejoong.

 

“Ah… tidak usah memakai embel-embel ssi. Cukup Jaejoong saja. Aku tidak terlalu suka.” Ujar Jaejoong memperalat perkataan Yunho.

 

Yunho mengangguk. “Ok. Dan kau juga tak seharusnya memanggilku dengan margaku. Cukup Yunho saja tanpa embel-embel ssi. Sama dengan dirimu, aku juga tidak terlalu suka.”

 

Mereka berdua tertawa.

 

Hingga tak terasa mereka berdua sudah berada di depan ruangan sang kepala sekolah. Pintu ganda ruangan itu cukup besar dengan ukiran-ukiran rumit khas Eropa. Mengingatkan Jaejoong pada bangunan-bangunan kerajaan Eropa yang pernah dipelajarinya dalam sejarah.

 

“Kita sudah sampai.”

 

“Ah, ne.” Jaejoong mengangguk.

 

Yunho mulai memasuki ruang kepala sekolah diikuti Jaejoong di belakang. Mulanya Yunho mengetuk pintu tersebut, setelah mendengar sahutan dari dalam, akhirnya Yunho memasuki ruang tersebut bersama Jaejoong. Yunho sedikit membungkukkan badannya kemudian mendekati dimana sang kepala sekolah duduk.

 

“Ah, Yunho.” Dilihatnya di belakang Yunho terdapat Jaejoong yang sedang berdiri. “Kebetulan sekali kau bersama Jaejoong di sini.”

 

“Kami hanya kebetulan bertemu tak jauh dari sini.” Sahut Yunho sopan.

 

“Begitu.” Sang kepala sekolah nampak mencari-cari sesuatu di antara tumpukkan kertas di atas meja yang menumpuk. “Begini…” Sang kepala sekolah menemukan apa yang dicarinya, “Perihal murid baru yang kuceritakan tadi, Jaejoonglah yang kumaksud.”

 

Yunho pun menolehkan kepalanya kepada Jaejoong. “Kebetulan sekali.”

 

“Dan Jaejoong… saat ini kau akan sekelas dengan Jung Yun Ho. Ia adalah ketua kelas di kelas 2 B. Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa memintanya pada Yunho. Dan…” Sang kepala sekolah menyerahkan sebuah kunci pada Jaejoong, “Ini adalah kunci kamar asramamu. Yunho, kau bisa mengantarnya kan?”

 

Yunho menundukkan kepalanya sekilas, sebagai tanda bahwa ia mengiyakan permintaan sang kepala sekolah.

 

Sang kepala sekolah tersenyum. “Kalian boleh pergi.”

 

Yunho membalikkan tubuhnya dan memandang Jaejoong. “Mari, ikut denganku.”

 

“N-ne.” Sahut Jaejoong agak gugup. Ia mengikuti langkah Yunho. Tapi, ketika Yunho sudah berada di luar ruangan, mendadak Jaejoong teringat pada sesuatu. Buru-buru ia membalikkan badannya dan kembali menghadap kepala sekolah.

 

“Ada apa?”

 

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Jaejoong terlihat antusias.

 

Sang kepala sekolah melipat kedua tangannya. “Silakan.”

“Sekolah ini… benar-benar sekolah khusus laki-laki ‘kan?”

 

“Tentu saja. Kau bisa melihatnya dengan jelas di surat kepindahanmu itu.”

 

“Tapi…” Sejenak Jaejoong ragu untuk melanjutkan perkataannya, “Kenapa ada dua orang gadis cantik yang memakai gaun di sekolah ini?”

 

Hening sejenak sampai sang kepala tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Jaejoong. Jaejoong mengerutkan alisnya. Ia heran. Adakah yang salah dengan pertanyaannya?

 

“Kau ingin tahu jawabannya?” Jaejoong mengangguk cepat. “Kau akan tahu nanti.”

 

Jaejoong mendesah. Terlihat dari wajahnya yang memancarkan kekecewaan karena tak mendapatkan jawaban dari bibir sang kepala sekolah. Lagipula… ia sungguh penasaran kali ini.

 

“Kurasa…” Sang kepala sekolah mencondongkan tubuhnya, “Kau akan menjadi kandidat selanjutnya.”

 

“Kandidat?” Jaejoong kembali mengerutkan alisnya, “Kandidat apa maksudnya?”

 

Sang kepala sekolah mengibaskan tangannya. “Bukan apa-apa.” Masih dengan kekehannya. “Kau juga akan tahu nanti. Apalagi wajahmu…” Sang kepala sekolah memegang dagu Jaejoong, kemudian menariknya ke kiri dan ke kanan untuk menilai rupa Jaejoong, “Terlihat cantik.”

 

Jaejoong tertawa gugup. “Tapi, saya ini laki-laki.”

 

I know you’re boy.” Sang kepala sekolah menjauhkan badannya dan kembali ke posisi duduknya semula. “Nah, sekarang kau boleh pergi. Kasihan Yunho menunggumu di luar.”

 

Jaejoong membungkukkan kepalanya. “Saya permisi.” Di tangannya kini terdapat kunci kamar yang akan di tempatinya nanti.

 

Otak Jaejoong masih berpikir, apa maksud dari perkataan kepala sekolah yang mengatakan bahwa ia akan menjadi kandidat seperti mereka? Lagipula, kepala sekolah tak mau memberikan jawabannya ketika Jaejoong bertanya. Tak mungkin kan kalau Jaejoong memaksa kepala sekolah itu untuk memberikan jawabannya?

 

Ah! Kenapa tidak bertanya kepada Yunho saja? Pikir Jaejoong. Ia lupa akan pemuda yang satu itu. Barang kali Yunho bisa memberitahu jawabannya.

 

Ketika Jaejoong membuka pintu ruangan itu, terlihat Yunho sedang bersandar di dinding samping pintu. Membuat Jaejoong merasa bersalah karena telah membuat Yunho menunggu.

 

Mianhamnida sudah membuatmu menunggu.”

 

Ani.” Yunho menggeleng, tanda bahwa kegiatan menunggunya itu tak menjadi masalah buatnya.

 

Mereka pun mulai berjalan menuju dimana kamar Jaejoong berada yang akan ditempatinya selama dua tahun ke depan. Karena saat ini dirinya adalah murid pindahan dan dia akan memulai kelasnya dari kelas dua.

 

Melihat Jaejoong yang tampak kepayahan membawa barang-barangnya, membuat Yunho tergugah hatinya untuk membantu teman barunya itu.

 

“Mau kubantu?” Tawar Yunho saat Jaejoong mencoba untuk menaikkan tasnya ke punggung.

 

Ani.” Tolak Jaejoong. Ia merasa bisa membawa semua barang-barangnya sendirian. “Aku cukup kuat untuk membawanya.”

 

Tak memedulikan penolakan Jaejoong, Yunho mengambil koper yang sedang dipegang Jaejoong. “Tak usah sungkan begitu.” Setelahnya Yunho memamerkan senyumnya pada Jaejoong.

 

Mau tak mau Jaejoong memasrahkan kopernya dibawa oleh Yunho. Dengan begini, ia jadi hemat tenaga untuk itu.

 

Selama dalam perjalanan, Yunho mulai satu persatu mengenalkan ruangan-ruangan yang ada di sekolah ini. Jaejoong mulai mengingat setiap tempat yang dijelaskan Yunho, tapi karena ia masih baru menginjakkan kakinya di sekolah ini, Jaejoong hanya mengingat beberapa saja.

 

“Nah, kamarku ada di asrama timur ini. Tepatnya di nomor 202. Kalau kau butuh bantuan, kau bisa menemuiku di kamarku.” Jelas Yunho. Sedangkan Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya.

 

Mereka melanjutkan perjalanannya lagi. Dan Yunho juga kembali mengenalkan ruangan-ruangan lain pada Jaejoong. Jaejoong hanya bisa mendengarkan. Tapi sesekali ia bertanya pada Yunho mengenai kegunaan ruangan tersebut.

 

Saking asyiknya memperhatikan Yunho yang menerangi ruangan-ruangan di sekitarnya, Jaejoong hampir lupa kalau ia ingin menanyakan sesuatu hal yang tadi sempat dipikirkannya.

 

“Yunho.” Panggil Jaejoong menginterupsi perkataan Yunho.

 

Karena panggilan itulah Yunho menghentikan perkataannya. “Wae?”

 

“Apa kau tahu…” Jaejoong ragu ingin menanyakan hal yang dipikirkannya.

 

Sedangkan Yunho menatap Jaejoong intens. Seolah meminta Jaejoong untuk melanjutkan perkataannya.

 

“Apa kau tahu mengenai… seorang gadis… yang mengenakan gaun di sekolah ini?” Jaejoong hati-hati dalam bertanya.

 

“Oh.” Seolah tahu apa yang dimaksud Jaejoong, Yunho hanya merespon kecil. Ia kemudian tersenyum. “Aku tahu.”

 

“Benarkah?” Tiba-tiba Jaejoong mendadak bersemangat. “Apa benar di sekolah ini ada seorang gadis? Kau tahu, aku baru saja bertemu dengan seorang—tidak dua orang gadis saat aku baru saja sampai di sekolah ini.” Jaejoong bersemangat menceritakannya. Dan Yunho hanya mendengarkannya saja. “Aku tak menyangka bahwa sekolah khusus untuk laki-laki ternyata ada gadis secantik mereka. Aish! Mereka benar-benar cantik. Beda sekali dengan gadis-gadis di sekolahku dulu di London. Mereka juga cantik, hanya saja kalau gadis di tempat kelahiranku sendiri ternyata lebih cantik. Aku benar-benar tertarik pada mereka.”

 

“HMPH!” Yunho berusaha kuat untuk menahan tawanya. Sampai-sampai ia menggunakan kedua tangannya untuk menutup mulutnya menahan tawa akibat mendengar penuturan Jaejoong. Tapi akhirnya Jaejoong mengetahui apa yang dilakukan Yunho.

 

“Ada yang salah dengan perkataanku?” Jaejoong bertanya heran. Ia sungguh bingung kenapa namja di depannya ini malah menahan tawa seperti itu.

 

“Tidak.” Setelah berusaha untuk mengatur napasnya, Yunho berkata. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Jaejoong-ah.” Yunho menambahkan embel-embel –ah pada akhiran nama Jaejoong, seolah-olah mereka sudah cukup dekat.

 

“Tidak seperti yang kubayangkan?” Jaejoong membeo. Kini kebingungannya bertambah dua kali lipat. “Apa maksudmu?”

 

“Tidak akan kuberitahu.” Yunho memilih untuk merahasiakan semuanya.

 

“Bersekolah di sini cukup membuatku seperti orang linglung. Setiap aku bertanya, tidak ada seorang pun yang menjawabnya, termasuk kau.”

 

“Oh ya?” Mereka kembali berjalan setelah sebelumnya sempat terhenti. “Aku bukannya tidak mau menjawab pertanyaanmu, hanya saja ada seseorang yang mungkin lebih tepat yang akan memberikan jawabannya kepadamu.” Terang Yunho.

 

“Siapa?” Jaejoong kembali bertanya. Berharap Yunho mau memberinya jawaban kali ini.

 

“Nanti kau juga akan tahu.”

 

Jaejoong cemberut.

 

Mereka akhirnya mengakhiri perjalanan mereka. Kini di depan mereka terpampang sebuah kamar yang cukup besar yang terletak di asrama barat, kamar Jaejoong. Setelah menaruh barang-barang Jaejoong ke dalam kamarnya, Yunho memilih untuk segera pamit. Ia masih ada kelas sehabis ini. Yunho menyarankan bahwa lebih baik Jaejoong mulai bersekolah besok dan segera diiyakan oleh Jaejoong. Berhubung dirinya mengalami kelelahan, ia juga belum mempersiapkan segala peralatan tulis yang akan digunakan. Jaejoong memilih untuk memejamkan matanya sembari mengembalikan stamina tubuhnya yang menurun karena kelelahan. Setelah itu ia bersiap-siap untuk mendekorasi kamarnya.

 

“Kim Jae Joong imnida.” Jaejoong memperkenalkan dirinya ketika guru yang sedang mengajar mempersilahkan dirinya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Dan Jaejoong menurutinya. Dari mata besar ia bisa melihat bahwa Yunho, pemuda yang membantunya kemarin satu kelas bersama dirinya. Jaejoong bersyukur, setidaknya ia bisa meminta bantuan pada Yunho kalau ia mengalami kesulitan.

 

Jaejoong tak mengalami kesulitan saat ia menerima pelajaran hari ini. Malah ia sangat menikmatinya. Tak jarang saat pelajaran berlangsung, Jaejoong berulang kali menerima salam perkenalan dari teman sekelasnya. Dan beruntung guru yang mengajar tak mengetahuinya.

 

Kira-kira sekitar jam dua lebih beberapa menit barulah jam sekolah benar-benar habis. Tak terasa enam jam sudah terlewatkan. Jaejoong merasa waktu berjalan terlalu singkat. Bahkan di sekolahnya dulu, jam sekolah akan benar-benar berakhir pada jam tiga tepat. Ya, setidaknya hanya beda satu jam saja.

 

Setelah ini Jaejoong memilih untuk kembali ke kamarnya saja. Ia terlalu malas untuk pergi ke perpustakaan guna untuk mendapatkan bahan pelajar untuk besok hari. Lagipula, ia belum selesai membereskan barang-barangnya di kamar.

 

Dua orang laki-laki keluar dari kelasnya saat jam sekolah sudah selesai. Di tangannya laki-laki berambut coklat tampak memegang dua buku setebal kurang lebih tiga sentimeter. Sedangkan laki-laki berambut hitam di sampingnya hanya berjalan sambil memanggul tasnya.

 

Tiba-tiba langkah pemuda berambut coklat berhenti saat dirinya melihat sesosok pemuda yang baru kali ini dilihatnya.

 

“Kangin-ah.” Sang pemuda berambut coklat memanggil pemuda lainnya yang berambut hitam. “Apa kau mengenal pemuda itu… yang rambutnya berwarna coklat?”

 

Pemuda yang dipanggil Kangin itupun mengarahkan pandangannya ke arah dimana pandangan pemuda berambut coklat itu berada. “Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Mungkin dia murid baru. Kudengar secara tak sengaja dari ruang kepala sekolah bahwa sekolah ini kedatangan murid baru.”

 

“Oh ya?”

 

Kangin mengangguk.

 

“Hmm…” Pemuda berambut coklat itu tampak bergumam. Ia memegang dagunya. “Aku harus mencari data orang itu secepatnya.”

 

Mengetahui apa yang akan dilakukan oleh pemuda berambut coklat itu, Kangin hanya bisa memutar kedua bola matanya. “Jangan bilang kalau hyung akan menjadikan pemuda itu sebagai korban ketiga hyung.”

 

Pemuda berambut coklat itu hanya menolehkan pandangannya pada Kangin. Kemudian senyum terkembang di bibirnya. “Kau selalu tahu apa yang kupikirkan.”

 

‘Benar kan?’ Kangin membatin.

 

“Pemuda itu tak boleh disia-siakan.”

 

Malam hari Jaejoong tengah bersantai di kamarnya. Kini ia hanya merebahkan badannya, sementara kamarnya sama sekali tak terurus. Jaejoong terlalu malas sekarang untuk menata barang-barangnya yang masih berada di sembarang tempat. Malahan kini ia sedang asyik mendengarkan lagu dari Ipod yang dipegangnya melalui headset.

 

Jaejoong masih asyik dengan kegiatannya, tanpa mengetahui bahwa pintu kamarnya sedang diketuk beberapa kali. Barulah ketika ia sedang memilih lagu mana yang akan diputar, Jaejoong mendengar pintu kamarnya diketuk. Buru-buru ia bangkit dari tempat tidurnya dan mematikan Ipod-nya.

 

Jaejoong membuka pintunya sedikit, dan ia bisa melihat seorang pemuda yang berdiri di hadapannya. Jaejoong tak mengenalnya, tentu saja. Ia adalah murid pindahan dari sini. Jaejoong sempat mengira bahwa yang datang adalah Yunho, tapi ternyata bukan sama sekali.

 

“Apakah kau Kim Jae Joong-sshi? Murid pindahan dari London?” tanya orang itu sambil tersenyum.

 

Jaejoong terdiam sebentar, kemudian menganggukkan kepalanya. “Ne, aku Kim Jae Joong. Wae?” tanyanya sopan.

 

“Aku hanya ingin berbicara kepadamu… sebatas perkenalan, boleh?” tanya orang itu kembali.

 

Dan lagi-lagi Jaejoong menganggukkan kepalanya.

 

“Tapi rasanya tidak sopan kalau kita berbicara di depan kamar begini. Takutnya akan mengganggu penghuni yang lain.”

 

Tersadar akan ketidak sopanannya, Jaejoong segera membuka pintunya sedikit lebih lebar dan mempersilahkan orang itu masuk ke dalam kamarnya. Jaejoong agak sedikit meringis mengenai kamarnya yang jauh dari kata rapi.

 

“Maaf kalau keadaan kamarku membuatmu tak nyaman. Barang-barangku terlalu banyak untuk dibawa kemari.” Tutur Jaejoong.

 

“Tak apa.” Pemuda itu mengibaskan tangannya di depan wajah, tanda bahwa ia tak keberatan sedikitpun. “Jadi…” Pemuda itu pun duduk di kursi yang kebetulan kosong. Sementara Jaejoong duduk di ranjangnya. “Sebelumnya perkenalkan, aku adalah Park Jung Soo. Tapi aku lebih suka dipanggil Leeteuk.” Jeda sebelum pemuda dipanggil Leeteuk itu melanjutkan. “Aku adalah ketua OSIS di sini.”

 

Jaejoong membulatkan matanya. Buru-buru ia membungkukkan badannya hanya sekedar untuk member penghormatan.

 

Leeteuk tertawa melihat tingkah Jaejoong. “Tak usah bersikap begitu. Aku bukanlah orang yang gila kehormatan.”

 

“N-ne.” jawab Jaejoong kikuk.

 

“Sangat jarang sekali ada murid pindahan yang kemari.” Leeteuk memulai percakapan. “Biasanya orang-orang lebih memilih untuk masuk ke sekolah ini pada awal semester baru.”

 

Appa yang memintaku untuk pindah kemari.” Jaejoong berbicara, sementara Leeteuk memperhatikan. “Aku sudah memintanya bahwa aku dibiarkan saja bersekolah di London selama satu tahun ke depan, jadi saat aku pindah aku sudah menjadi kelas tiga nantinya. Tapi Appa bersikeras, dan akhirnya aku terdampar di sekolah ini.” Sedikit tertawa saat Jaejoong menjelaskan.

 

“Pada akhirnya akan membuang-buang uang saja.” Leeteuk berkomentar, dan Jaejoong mengiyakan komentar Leeteuk tersebut. “Kau sudah berkeliling ke sekitar sini sebelumnya?” lanjut Leeteuk.

 

“Ne, Jung Yun Ho yang membantuku.”

 

“Oh, Jung Yun Ho.” Leeteuk membeo.

 

“Kenapa?”

 

Ani. Hanya saja aku mengenal pemuda itu. Dia memang orang yang sangat baik.”

 

Leeteuk pun menatap Jaejoong. “Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan mengenai sekolah ini? Biasanya murid baru ataupun murid pindahan mempunyai banyak pertanyaan mengenai sekolah barunya.”

 

Jaejoong tengah berpikir. Ia memang punya pertanyaan. Tapi rasanya itu tidak terlalu penting. Lagipula, Yunho sudah menjelaskan banyak hal tentang sekolah ini.

 

“Aku rasa—“ Oh, iya! Jaejoong baru ingat! Ada satu pertanyaan yang memang belum terjawab sampai saat ini. Jaejoong melirik Leeteuk, mungkin orang ini bisa menjelaskannya. Apalagi dia ketua OSIS pasti dia tahu banyak. “Mengenai…”

 

“Hmm?”

 

“Err… apakah di sini memang ada seorang gadis yang bersekolah di sini?” Tanya Jaejoong hati-hati. Takut kalau insiden dimana ia bersama Yunho kembali terjadi seperti kemarin.

 

“Tidak.” Jawab Leeteuk mantap.

 

Jaejoong membulatkan matanya. Tidak percaya dengan jawaban Leeteuk. “Benarkah?”

 

“Kau tentu tahu kalau sekolah ini khusus menampung murid laki-laki. Jadi, tak ada seorang gadis pun yang diperbolehkan bersekolah ini.”

 

“Ta-tapi, aku kemarin melihat bahwa ada—“

 

“Kalau yang kau maksud adalah seorang pemuda yang berpakaian layaknya seorang gadis di sini memang ada.” Leeteuk memotong perkataan Jaejoong.

 

“Jadi… dua orang gadis yang mengenakan gaun yang kemarin aku lihat adalah… laki-laki?” Jaejoong sungguh syok mendengar penjelasan Leeteuk. Jadi… ia sempat menyukai laki-laki? Yang benar saja!

 

Leeteuk menjentikkan jarinya. “Betul! Mereka adalah laki-laki. Tak kusangka bahwa kau sudah bertemu mereka sebelumnya.”

 

Jaejoong menggelengkan kepalanya, masih tak percaya. “Ini bohong, ‘kan?”

 

“Buat apa aku berbohong kepadamu?” Leeteuk mengubah posisi duduknya. “Mereka adalah Princess di sekolah ini. Mereka diberi tugas untuk menjadi penghibur bagi murid-murid di sini yang… bisa kukatakan bahwa mereka butuh pemandangan yang menyejukkan.”

 

“Pemandangan yang menyejukkan?” ulang Jaejoong.

 

“Ayolah… di sini semuanya adalah murid laki-laki, mereka juga butuh perempuan.”

 

Jaejoong kembali membulatkan matanya. “Jadi… Princess itu… kau…”

 

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan.” Jaejoong memutar kedua bola matanya. Heran dengan pemikiran Jaejoong yang bisa diartikan negatif tersebut. “Mereka hanya sebagai penghibur, bukan untuk melayani hasrat laki-laki di ranjang.”

 

Jaejoong tertawa kikuk. “Kupikir mereka… kau tahu maksudku.”

 

“Mereka bukan pelacur, asal kau tahu. Lagipula, mereka bukan gay, kurasa.”

 

“Ohh…” Jaejoong menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Merasa salah tingkah karena ia sempat yang berpikir yang tidak-tidak mengenai Princess tersebut.

 

“Kim Jae Joong-sshi.”

 

Ne?” Jaejoong agak sedikit kaget karena Leeteuk memanggilnya dengan nada yang serius, tidak seperti tadi yang terkesan santai.

 

“Kupikir, aku langsung saja mengutarakan maksud tujuanku kemari untuk menemuimu.” Jaejoong mengangkat alisnya. Ia diam, bertanda meminta Leeteuk melanjutkan. Leeteuk menatap Jaejoong yang berdiri di hadapannya. “Aku menawarimu untuk menjadi seorang princess di sekolah ini. Bagaimana?”

 

Mata Jaejoong terbelalak. “M-mwo?”

 

“Kau memiliki pendengaran yang bagus. Jadi aku takkan mengulanginya.”

 

Jaejoong berpikir, kemudian menatap Leeteuk kembali. “Apa keuntungan yang kudapat kalau aku menerima tawaranmu?” ucap Jaejoong membalas perkataan Leeteuk

 

Sang ketua OSIS tersenyum. “Kau akan ditempatkan di asrama khusus untuk seorang princess. Kau juga akan mendapatkan fasilitas mewah di asramamu sendiri. Kau bebas dari biaya SPP selama setahun ke depan. Kau juga akan dijaga ketat oleh pengawal yang sudah kusediakan. Dan yang paling penting… kau akan mendapatkan upah atas pekerjaanmu sebagai princess. Dan kupastikan upah tersebut tidaklah sedikit, bahkan… melebihi dari uang SPP yang dibayarkan setiap bulan. Bagaimana?”

 

TBC

Hello! Ini adalah chapter satunya. Maaf kalau ternyata pendek hasilnya.

Oh ya, mungkin fic ini terasa familiar bagi kalian. Yups, fic ini terinspirasi dari sebuah manga/anime/dorama yang berjudul Princess Princess. Akan aku usahakan fic ini berbeda dengan manga/anime/dorama Princess Princess. Lagipula, aku nga baca manganya, trus udah lupa ama jalan cerita di animenya, dan aku cuma nonton doramanya sampai episode 4 aja saking illfeel ama pemainnya yang nga ada cantik-cantiknya. Malah kaya banci gitu. Tapi yang jadi Mikoto-nya emang bener-bener manis kalau udah jadi perempuan :3

Sebenernya rencananya fic ini adalah collab, tapi berhubung yang aku ajak agak sibuk, jadinya aku sendiri aja yang ngerjain fic ini.

Okeh, minta komentarnya boleh? Pokoknya yang jadi kekurangan di fic ini bisa diutarakan :3

Oh ya, mungkin ini bakal jadi gangguan buat kalian. Di fic-ku ini mungkin nga terlalu banyak kosakata Korea, karena aku nga begitu hapal mengenai kosakata Korea. Kalau Jepang sih hapal-hapal aja. Jadi, fic-ku ini kurang banget ada unsur Korea-nya. Nga papa kan?

Oh ya, bagi yang ingin tahu bagaimana gedung sekolah dan asramanya, kalian bisa lihat gambarnya seperti ini.

 

Yang diatas adalah gedung sekolahnya. Sedangkan yang dibawah adalah asramanya.

Gambar di atas aku ambil dari Huaqiao University di China ^^


 

HURT [ONESHOOT]

HURT

Sequel of Night at The Full Moon

DBSK © SM. Entertainment

Shonen-ai, maybe Typo (s), etc

Don’t Like Don’t Read

ENJOY

Baca lebih lanjut

The Princess Boy [PROLOG]

The Princess Boy

By Arya Angevin

DBSK, SJ, Shinee © SM Entertainment

Warning: Boys Love and maybe possible OOCness.

Don’t Like Don’t Read

ENJOY

Baca lebih lanjut

Diproteksi: [NC] Night at Full Moon

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Diproteksi: GLORIA Chapter 3

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

GLORIA Chapter 2

Title: Gloria

Genre: Western, Romance.

Rated: PG13

Warning: SLASH! AU, maybe OOC?, typo (maybe), gaje, dll dsb.

Disclaimer: DBSK © SM Entertainment
Baca lebih lanjut